Mengankat Tangan Ketika Berdoa Bid’ahkah?
Sebagian golongan ada yang membid’ahkan mengangkat kedua tangan waktu berdo’a. Sebenarnya ini sama sekali tidak ada larangan dalam agama, malah sebaliknya ada hadits bahwa Rasulullah saw. mengangkat tangan waktu berdo’a. Begitupun juga ulama-ulama pakar dari berbagai madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan lain sebagainya) selalu mengangkat tangan waktu berdo’a, karena hal ini termasuk adab atau tata tertib cara berdo’a kepada Allah SWT.
Dalam kitab Riyaadus Shalihin jilid 2 terjemahan bahasa Indonesia oleh Almarhum H.Salim Bahreisj cetakan keempat tahun 1978 bab Sunnahnya Sujud Syukur Ketika Mendapatkan Kenikmatan Yang Nyata Atau Terhindar Dari Bencana Yang Nyata meriwayatkan sebuah hadits berikut ini:
Sa’ad bin Abi Waqqash ra berkata: Kami bersama Rasulullah saw. keluar dari
Makkah menuju ke Madinah, dan ketika kami telah mendekati Azwara, tiba-tiba Rasulullah saw. turun dari kendaraannya, kemudian mengangkat kedua tangan berdo’a sejenak lalu sujud lama sekali, kemudian bangun mengangkat kedua tangannya berdo’a, kemudian sujud kembali, diulanginya perbuatan itu tiga kali. Kemudian berkata: ‘Sesungguhnya saya minta kepada Tuhan supaya di-izinkan memberikan syafa’at (bantuan) bagi ummat ku, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku, kemudian saya mengangkat kepala dan minta pula kepada Tuhan dan diperkenankan untuk sepertiga, maka saya sujud syukur kepada Tuhan, kemudian saya mengangkat kepala berdo’a minta untuk ummatku, maka diterima oleh Tuhan, maka saya sujud syukur kepada Tuhanku’. (HR.Abu Dawud)
Dalam hadits di atas menerangkan bahwa Rasulullah saw tiga kali berdo’a sambil mengangkat tangannya setiap berdo’a, dengan demikian berdo’a sambil mengangkat tangan adalah termasuk sunnah Rasulullah saw.
Dalam Kitab Fiqih Sunnah Sayid Sabiq (bahasa Indonesia) jilid 4 cetakan pertama tahun 1978 halaman 274-275 diterbitkan oleh PT Alma’arif, Bandung Indonesia, di halaman ini ditulis sebagai berikut :
Berdasarkan riwayat Abu Daud dari Ibnu Abbas ra, katanya :
“Jika kamu meminta (berdo’a kepada Allah SWT.) hendaklah dengan mengangkat kedua tanganmu setentang kedua bahumu atau kira-kira setentangnya, dan jika istiqhfar (mohon ampunan) ialah dengan menunjuk dengan sebuah jari, dan jika berdo’a dengan melepas semua jari-jemari tangan”. (HR.Abu Dawud)
Malah dalam hadits ini, kita diberi tahu sampai dimana batas sunnahnya mengangkat tangan waktu berdo’a, dan waktu mengangkat tangan tersebut disunnahkan dengan menunjuk sebuah jari waktu mohon ampunan, melepas semua jari-jari tangan (membuka telapak tangannya) waktu berdo’a selain istighfar.
Diriwayatkan dari Malik bin Yasar bahwa Rasulullah saw. bersabda :
“Jika kamu meminta Allah, maka mintalah dengan bagian dalam telapak tanganmu, jangan dengan punggungnya !” Sedang dari Salman, sabda Nabi saw. : “Sesungguhnya Tuhanmu yang Mahaberkah dan Mahatinggi adalah Mahahidup lagi Mahamurah, ia merasa malu terhadap hamba-Nya jika ia menadahkan tangan (untuk berdo’a) kepada-Nya, akan menolaknya dengan tangan hampa”.
Lihat hadits ini Allah SWT. tidak akan menolak do’a hamba-Nya waktu berdo’a sambil menadahkan tangan kepadaNya, dengan demikian do’a kita akan lebih besar harapan dikabulkan oleh-Nya!
Sedangkan hadits yang diriwayatkan Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik ra. menuturkan :
“Aku pernah melihat Rasulullah saw. mengangkat dua tangan keatas saat berdo’a sehingga tampak warna keputih-putihan pada ketiak beliau”. (HR. Bukhori dan Muslim)
Masih ada hadits yang beredar mengenai mengangkat tangan waktu berdo’a. Dengan hadits-hadits diatas ini, cukup buat kita sebagai dalil atas sunnahnya mengangkat tangan waktu berdo’a kepada Allah SWT. Bagi saudaraku muslim yang tidak mau angkat tangan waktu berdo’a, silahkan, tapi janganlah mencela atau membid’ahkan saudara muslim lainnya yang mengangkat tangan waktu berdo’a !. Karena mengangkat tangan waktu berdo’a adalah sebagai adab atau sopan santun cara berdo’a kepada Allah SWT. dan hal ini diamalkan oleh para salaf dan para ulama pakar (Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Imam Ahmad –radhiyallahu ‘anhum– dan para imam lainnya).
Nabi Muhammad saw, pada waktu menziarahi kuburan Baqi' al-Gharqad, beliau berdo'a dan mengangkat kedua tangannya.
Dari Aisah ra, la berkata : Nabi saw, keluar rumah pada suatu malam maka saya suruh Barirah agar mengikuti di belakangnya supaya tahu kemana beliau pergi, maka ia berkata : Nabi saw, berjalan menuju kuburan Baqi' al-Gharqad dan beliau berhenti di tengah kuburan Baqi' kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sambil. berdo'a kemudian beliau pulang. Maka saya tanyakan kepada Barirah dan dia memberi tahu. kepada saya tentang hal itu. Pada pagi harinya, saya bertanya. kepada Nabi saw, kemana anda pergi semalam ? Nabi saw, menjawab : "Saya di utus Allah untuk datang menziarahi kuburan Baqi' al-Gharqad untuk mendoakan kepada mereka". HR. Ahmad dan Nasai. (Musnad Ahmad Juz V1/92 clan Sunan Nasal Juz 1/287)
Janganlah kita cepat membid’ahkan sesuatu amalan karena membaca satu hadits dan mengenyampingkan hadits lainnya. Semuanya ini amalan-amalan sunnah, siapa yang mengamalkan tersebut akan dapat pahala, dan yang tidak mengamalkan hal tersebut juga tidak berdosa. Karena membid’ahkan amalan sama saja dengan mengharamkan amalan tersebut, dan Jika ternyata amalan tersebut ada dalil yang mendasarinya, berarti sama halnya mengharamkan sesuatu yang telah dihalalkan agama.
Terkadang ada pula orang yang berani membid’ahkan suatu amalan dengan alasan bahwa hadits yang dipakai dho’if atau bahkan maudhu’, padahal ulama salaf ahli hadits telah menshahihkannya. Maka kita sebagai orang hidup pada zaman sekarang dengan keterbatasan ilmu agama dan jauh dari masa para sahabat, tentunya lebih mempercayai ulama-ulama terdahulu seperti Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah dan lain-lain, yang kewira’ian (kehati-hatian), ke-zhuhud-annya (tidak cinta dunia) dan keilmuan mereka jauh lebih tinggi dibanding orang-orang yang hidup di zaman sekarang.
Renungkanlah dengan apa yang telah disabdakan Nabi saw : Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiallahu 'anhuma, katanya: "Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya Allah itu tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan sekaligus pencabutan yang dicabutnya dari para manusia, tetapi Allah mencabut ruhnya para alim-ulama, sehingga apabila tidak ditinggalkannya lagi seorang alim pun - di dunia ini, maka orang-orang banyak akan mengangkat para pemimpin - atau kepala-kepala pemerintahan - yang bodoh-bodoh. Mereka - para pemimpin dan kepala - itu ditanya, lalu memberikan keterangan fatwa dengan tanpa menggunakan dasar ilmu pengetahuan. Maka akhirnya mereka itu semuanya sesat dan pula menyesatkan - orang lain." (Muttafaq 'alaih)
Wallahu a’lam.
Komentar