1,3,7,40 hariam dst atau kirim doa pakai yasinan,tahlilan dan fidak(baca surat al ikhlas 100 ribu kali yang pahalanya di hadiahkan orang meninggal. bid'ahkah ??????????

Mengingat Mati


Allah berfirman dalam al-Qur’an surat Waqi’ah ayat 60

“Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-sekali tidak akan dapat dikalahkan,*

Dan juga dalam surat Azzumar ayat 30
• • •
“Sesungguhnya kamu akan mati dan Sesungguhnya mereka akan mati (pula)”

Allah telah memberikan wahyu kepada Nabi Muhammad. Saw, dan berfirman “Wahai Muhammad hiduplah seknedakmu, karena sesungguhnya engkau akan mati. Berbuatlah sekendakmu, karena engkau akan dibalas. Cintailah orang yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau akan berpisah dengannya. Ketahuilah bahwa kemulian seorang mukmin adalah qiyam al-lail, dan merasa cukup dari kebutuhan manusia”.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqorah ayat 94-95
•• • •
Katakanlah: "Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, Maka inginilah[[Maksudnya: mintalah agar kamu dimatikan sekarang juga] kematian (mu), jika kamu memang benar.
Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.”

Kita semua sadar atau tidak tentu akan menbghadapi dan mengalami salah satu peristiwa yang sangat menakutkan, datangnya tidak membuat janji dan tanpa permisi, dan semua itu akan kita alami, yaitu al-maut, artinya yaitu meninggal dunia, keluarnya roh dari raga.

Mengahdapi al-maut tersebut umumnya manusisa akan berkecil hati, kadang-kadang berupaya untuk melindungi dirinya dalam benteng raksasa atau gedung yang kuat serta kokoh. Tetapi perlu kita sadari bahwa ketetapaNya (al-maut) tidak akan peduli dengan usaha manusia jika waktunya tentu akan menjemput manusia, meskipun manusia telah berusaha berlindung di dalam benteng baja sekalipun, malaikat Izro’il tentu akan mengambil nyawa manusia.

Allah menegasakan dalam al-Qur’an Surat An-Nisaa’ ayat 78:

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, Kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh”

Menghadapi kematian hendaknya kita tidak menganggap enteng atau sepele, sebab kematian manusia tidaklah sama dengan kematian kadal, belalang, kucing, harimau, dan binatang-binatang lainnya yang tidak mempunyai akal.

Kematian manusia akan menjadi urusan, alam kubur manusia tentu berbeda dengan alam kubur binatang yang tidak berakal. Alam kubur manusia terdiri dari dua macam, yaitu : taman surgawi atau jurang siksa yang sangat menakutkan dan mebuat hati miris, itu sesuai dengan hadits nabi di dalam Nashoihud Diniyah, hal. 55 yang artinya :

“Alam kubur itu ada yang berupa taman setengah dari taman surgawi, atau juga berupa jurang siksa setengah dari siksa neraka.

Oleh sebab itu sudah selayaknya jika kita berbelas kasih kepada diri sendiri, dengan cara tekun mengabdi (beribadah) kepada-Nya. Supaya kita selamat dari siksa kubur dan mendapatkan masuk ke dalam taman surga, dan selanjutnya proses di akhirat sudah sedikit ringan.

Dan selanjutnya orang yang selalu ingat mati, mengibaratkan hidup di dunia ini sebagai kendaraan yang sangat cepat sekali, dan ingat mati sebagai remnya, Dan orang yang selalu ingat mati tentu akan terlihat sifat-sifat:
  1. Cepat-cepat bertobat (banyak membaca istighfar)
  2. Merasa cukup dengan apa yang ada tidak rakus terhadap dunia
  3. Rajin beribadah kepoada Allah.
Rasulullah bersabda:
“Kematian itu bagaikan pintu gerbang, semua manusia tentu akan memasukinya”.

Bagaimanakah untuk menyampaikan pesan di atas kepada masyarakat Jawa yang belum mengenal Islam dan memiliki prinsip dalam pendidikan bahwa, pukulan untuk anak kecil (anak kecil perlu pendidikan yang membutuhkan sedikit otoriter), tutur untuk pemuda,(pemuda dengan musyawaroh) dan senyuman para orang tua (orang tua dengan bukti nyata orang tua akan mengetahui arti sebuah senyuman, senyum mencibir atau senyum bangga), dan itupun seuai dengan hadits nabi yang karang lebih: “Jika engkau melihat kemungkaran maka rubah dengan tanganmu, jika tidak mampu dengan lisanmu, dan jika tidak mampu dengan do’a”.

Mengingat hal tersebut di atas para pendahulu kita (Wali Songo), mengambil moment yang sudah biasa dilakukan masyarakat ketika kematian itu datang, yaitu acara. 1 hari, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, pendak 1 ( 1tahun), pendak pindho (2 tahun), dan 1000 hari.

Peringatan 1 Hari (sur bumi/sur tanah)

Satu dalam bahasa Jawa adlah siji atau setunggal. Manusia terlahir di sunia ini karena bersatu wiji (bibit dari ayah dan ibu) berkembang menjadi keluarga, berkembang menjadi masyarakat, itu semua buah dari bersatunya kasih dan saying dari seorang ayah dan ibu. Dan secara naluriah manusia diberikan rasa kasih saying antara sesame manusia, lebih-lebih kepada saudara yang masih dekat seklai hubungan darahnya. Seperti kasih saying orang tua dan anak, kakek dengan cucu, atau kakak dan adik. Dan kasih sayasng itu akan terputus jika ajal menjemput salah satu dariny. Betapa sedih keluarga yang ditinggal oleh al-marhum, sebab kemarin masih menjadi satu (setunggal) harus mengahadapi kenyataan bahwa almarhum harus pindah bumi (sur bumi), atau pindah tanahnya (sur tanah), Dan untuk menghibur keluarga yang ditinggal maka dihiburlah dengan silaturrahim, majlis dzikir, dan shodaqoh.

Setiap ada peristiwa kematian masyarakat Jawa tentu akan mempersiapkan peralatan, bunga Mawar, Kenanga, Kanthil, Melati, layaknya orang yang akan melakukan sesajen. Tujuan dari mempersiapakan bunga menurut orang-orang yang mempercayai bahwa arwah setelah meninggal masih berhubungan dengan keluarga yang masih hidup oleh sebab itu merekapun membawakan kiriman berupa bunga. Kitapun masyarakat muslim yang menganut faham ahlussunnah juga mempunyai kepercayaan bahwa orang yang telah meninggal masih bisa menerima kiriman do’a, amal perbuatan baik berupa shodaqoh, haji dan amal-amal lainnya. Sedangkan bunga dari kiriman itu bila kita maknai akan berbunyi : Mawarno-warno kaindahaning tindak-tanduke mayit kenengno lan kanthilno ing ati lan tindakno sakbisa-bisamu supoyo ora malati (Berbagai macam kebaikan /jasa almarhum masukan dalam hatimu agar menghujam sampai dalam, kenang dan catat dalam hatimu lan laksanakan sekuat-kuatmu agar kamu tidak mendapat bilahi/tuah).

Dari sini kita bisa memetik pelajaran bahwa bekal kita untuk menghadapi kematian adalah bunga kehidupan/amal perbuatan kita semasa hidup. Bunga kehidupan haruslah berdasarkan tuntunan syari’at yang dibawa oleh Junjungan kita Nabi Muhammad SAW, ke bawah sampai dengan ulama-ulama sekarang karena kita sudah tidak bertemu langsung dengan junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Apabila kita ingat bahwa apa yang akan menjadi bekal ketika kita naik/meninggal tentu kita akan banyak mendekat pada para ulama untuk mendapatkan petunjuk menghadapi kematian dan agar kita tidak salah membawa bekal menghadap kepada Sang Khaliq.

Dan tak lupa denagn membakar Menyan (Kemenyan), menyan adalah ibarat dari mizan, karena orang yang meninggal sudah terputus amalnya diibartakan seperti terbakarnya menyan.

3 Hari
Kita telah maklum dengan hitungan deret setelah angka satu tentu angka dua (loro atau kalih: Jawa ), setelah itu baru tiga (tiga:Jawa).

Berapa waktu kita berkumpul dengan orang kita sayangi akan sangat membekas sekali dalam hati, kita akan rela untuk melakaukan apapun demi untuk menyenangkan orang yang kita kasihi. Namun orang yang kita sayangi itu pindah (kaelih: Jw), maka hati kita akan sakit sekali(lara: Jw), namun jika pindahnya iitu karena ajal kita harus rela dan ikhlash(tega/tiga:Jw) melepaskan dan merima taqdir dari yang Maha Kuasa. Sebab apapun usaha kita tidak akan bisa mengelak dari taqdirNya.

Dengan berkumpul dan membaca do’a serta makan bersama-sama akan menimbulkan rasa ikhlash untuk melepas kerabat yang pergi meninggalkan kita, dan orang yang ditinggal juga timbul perasaan bahwa meskipun telah pergi salah satu keluarganya namun masih tertinggal banyak saudara yang lain.

7 Hari
Tujuh dalam bahasa jawa adalah pitu. Setalah bisa meng-ikhlaskan (tega) kepergian snak saudara meninggalkannya, maka mudah-mudahan kepergianya itu biasa menjadi pitu-tur (petuah./ nasehat), pitu-duh(petunjuk), dan mendapatkan pitu-lungan(pertolongan).
Sebaik-baiknya nasehat adalah kematian, sebab sengan mengingat mati kita akan mengetahui hakikat dan tujuan hidup di dunia ini.

40 Hari
Empat puluh dalam bahasa Jawa patang puluh. Kalau sudah mendapatkan nasehat, petuntuk dan pertolongan dalam mengarungi kehidupan ini tentu kita diharapkan tidak akan membuang secara percuma air mata atau dapat membendung air mata (pet luhe:Jw), untuk hal-hal sepele. Air mata hanya kita teteskan jika kita tidak dapat menjalan perintah dan melanggar apa yang menjadi larangan-Nya. Bukan untuk menagisi kepergian salah satu sanak keluarga.

100 Hari
Seratus dalam bahasa Jawa satus, setalah dapat membendung air mata maka air mata akan menjadis habis tak tersisa (sat lan atus: Jw), dan benar-benar tidak akan menititik air mata jika mengingat kepergian sanak saudara yang telah menggal dunia. Ataukah tetap akan menjadi keras (atos) hati kita tidak mau menerima nasehat, petunjuk, dan pertolongan untuk berjalan di rel-Nya, dalam arti kita tetap menjadi orang yang masa bodoh dengan kehidupan ini.

1 tahun, 2 tahun
Peringatan atau haul sanak saudra yang telah pergi tiap tahun dalam tradisi Jawa dikenal dengan pendak siji (satu tahun), pendak pindo (dua tahun). Pendak sepadan dengan kata mundak yang berarti dengan meninggalnya salah sanak keluarga diharapkan yang ditinggal bertambah (mundhak) rasa taqwanya kepada Allah SWT.

1000 hari
Seribu dalam bahasa Jawa adalah sewu, dan orang Jawa menggunakan bilangan seribu ini untuk mengungkapkan betapa besarnya dan banyaknya sesuatu, contohnya: Milyader atau orang kaya disebutnya dengan brewu, banyak sekali tidak terhitung akan disebu ma- ewu-ewu. Dengan kepergian sanak saudara diharapkan agar yang ditunggal benar-benar menjadi orang kaya (brewu:Jw) hatinya.

Mudah-mudahan dengan Syafa’at Junjungan kita Nabi Muhammad dan berkah dari para kekasih-Nya kita dimasukkan dalam hadits nabi: “Bila maikat maut mendatangi seorang wali Allah, maka ia bersalam kepadanya dan berkata,”Keselamatan semoga tercurah untukmu wahai waliyullah, Bangkit dan keluarlah dari tempat yang kau binasakan menuju tempat yang kau ramaikan”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FADLILAH MEMBACA DALAIL KHOIROT AL JAZULI

ISTIQOMAH DAN TA'ALUQ PADA GURU