AYO BERBONDONG-BONDONG NDEREK THORIQOH MU'TABAROH AN NAHDLIYAH
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Saudaraku, ketika seorang sakit demam, maka gula yang rasanya manis akan terasa pahit. Demikian juga dengan nikmat-nikmat ilahiah. Jika hati dan ruh-mu masih sakit karena melalaikan Allah, tentu engkau tidak dapat merasakan kenikmatan-kenikmatan itu. Manisnya shalat khusyuk, kerinduan membaca al Quran, ke-asyik-masyuk-an yang dialami para ahli dzikr, akan terasa sebagai beban pahit bagimu.
Sangat jarang orang yang mengetahui obatnya, walaupun sebenarnya solusi itu terletak di depan mata. Ketahuilah saudaraku, Islam memiliki ilmu tasawuf, sebuah ilmu yang mempelajari seluk beluk hati dan ruh, dan kemudian memperbaikinya. Pelakunya biasa disebut sebagai sufi.
Saudaraku, gairah sufistik mulai bertebaran di kota-kota besar. Walaupun masih terdapat pro dan kontra mengenai ajaran tasawuf dan pengamal ajarannya (sufi), terutama oleh mereka yang tidak memahami ajaran ini, tetapi gairah ini itu hampir tak dapat dibendung.
Di balik kegembiraan, bahwa umat manusia mulai menemukan kembali jati dirinya sebagai hamba Allah, di sela deraan nafsu duniawi, ada satu hal yang membuat ana khawatir, yaitu, bahwa mereka yang memiliki gairah sufistik tersebut memiliki niat yang berbeda-beda. Ada yang sekedar ingin tahu, ada yang ingin mengetahui seluk beluk dan perkembangan tasawuf secara akademis, ada yang serius mendalaminya untuk kemudian mengamalkannya, ada yang menjadikannya sebagai tempat pelarian masalahnya, atau ada juga yang ingin menjadikannya sebagai ajang mencari jodoh (walaupun ana tahu, bahwa hal terakhir ini sedikit musykil untuk terwujud).
Bermuncullah fenomena baru, yaitu orang yang mengaku sufi, tetapi tidak mengikuti tarekat tertentu. Mungkinkah ?
Saudaraku, jika engkau ingin mengambil mutiara langsung dari kerangnya, maka engkau akan berhadapan dengan tiga syarat.
a. Syarat yang pertama adalah engkau berada di kawasan laut atau pantai. Tidak mungkin engkau mendapatkannya di gunung bukan ?
b. Syarat yang kedua adalah engkau harus naik perahu untuk sampai ke tempat kerang mutiara tersebut. Mungkinkah engkau berenang menggapainya, jika ternyata tempat kerang mutiara itu jauh dan dalam ? Tidakkah engkau khawatir jika engkau sudah kehabisan tenaga untuk berenang, sebelum engkau sampai ke tempat kerang mutiara itu ?
c. Syarat yang ketiga, adalah engkau harus turun ke air dan menyelam, karena kerang mutiara selalu berada di dasar laut, untuk menerima keindahan mutiara itu.
Dan ketiga syarat tersebut, dikenal di dunia tasawuf dengan istilah syariat, thariqat (jalan), dan hakikat.
Saudaraku, banyak orang awam yang melakukan syariat islam. Mereka shalat, zakat dan puasa. Tetapi mereka tidak mengikuti sebuah thariqat (jalan), sehingga pada akhirnya mereka tidak mencapai hakikat kenikmatan menjadi hamba Allah. Mereka hanya tahu bahwa al-quran itu indah, antara mengerti dan tidak. Jika mereka tahu para sahabat rasul merasakan kenikmatan dalam shalat, sehingga bisa shalat ratusan rakaat dalam semalam, kemudian melihat kenyataan bahwa mereka juga shalat, tetapi mereka heran, kenapa mereka tidak pernah merasakan kenikmatan yang sama. Tak heran, karena diantara tiga syarat tersebut, mereka hanya memenuhi satu diantaranya, sehingga mereka tidak berhasil mencapai yang diinginkan.
Saudaraku, sah-sah saja jika ada orang yang memiliki gairah sufi tetapi tidak berthariqat, jika niatmu hanya untuk kepentingan akademis, tetapi niscaya engkau tidak akan mendapatkan buah (hasil) dari pencarianmu. Harus diingat bahwa orang yang mengkaji tasawuf tanpa mengetahui substansi kedalaman amaliahnya atau tidak mengamalkan ajarannya, maka hasil analisa akademiknya akan terasa kering dan tidak memberikan sentuhan spiritual. Apalagi jika sebelumnya orang tersebut sudah memiliki pandangan bahwa tasawuf adalah produk filsafat murni atau orang tersebut mengikuti para orientalis dengan mengatakan bahwa tasawuf adalah gerakan sinkretisme islam, atau hanya bentuk gerakan kebatinan belaka. Hal tersebut dapat terjadi karena mereka hanya melihat kulit-kulit dan fenomena-fenomena yang ada di dalam tasawuf dari luar.
Maka saudaraku, jika engkau akan mengikuti ajaran tasawuf, maka engkau harus menggenapkan sekurangnya tiga syarat :
1. Memiliki keyakinan akan kebenaran ajaran tasawuf
2. Harus dibimbing oleh seorang (dan hanya seorang dalam satu waktu) mursyid (guru / syaikh) yang kamil dan mukammil. Tanpa bimbingan seorang mursyid, maka seseorang yang sedang menyelami kedalaman Ilahi dapat tersesat. Bukankah dalam dunia sehari-hari orang baru sangat mudah tersesat jika tidak memiliki penunjuk jalan yang berpengalaman ? Siapa yang berthariqat tanpa guru, maka gurunya adalah syaitan.
3. Mengikuti salah satu thariqat yang sanad atau silsilahnya sampai kepada Rasulullah saw.
Semoga engkau termasuk kepada hamba yang diridhai Allah.
Berkat pemahaman, ridha kepada Allah akan terwujud
Hanya melalui cahaya, pemahaman akan terwujud
Hanya melalui kedekatan, cahayamu memancar
Dan hanya berkat pertolongan, kedekatan akan tersingkap.
Alhamdulillaahirobbil'aalamiin
Saudaraku, ketika seorang sakit demam, maka gula yang rasanya manis akan terasa pahit. Demikian juga dengan nikmat-nikmat ilahiah. Jika hati dan ruh-mu masih sakit karena melalaikan Allah, tentu engkau tidak dapat merasakan kenikmatan-kenikmatan itu. Manisnya shalat khusyuk, kerinduan membaca al Quran, ke-asyik-masyuk-an yang dialami para ahli dzikr, akan terasa sebagai beban pahit bagimu.
Sangat jarang orang yang mengetahui obatnya, walaupun sebenarnya solusi itu terletak di depan mata. Ketahuilah saudaraku, Islam memiliki ilmu tasawuf, sebuah ilmu yang mempelajari seluk beluk hati dan ruh, dan kemudian memperbaikinya. Pelakunya biasa disebut sebagai sufi.
Saudaraku, gairah sufistik mulai bertebaran di kota-kota besar. Walaupun masih terdapat pro dan kontra mengenai ajaran tasawuf dan pengamal ajarannya (sufi), terutama oleh mereka yang tidak memahami ajaran ini, tetapi gairah ini itu hampir tak dapat dibendung.
Di balik kegembiraan, bahwa umat manusia mulai menemukan kembali jati dirinya sebagai hamba Allah, di sela deraan nafsu duniawi, ada satu hal yang membuat ana khawatir, yaitu, bahwa mereka yang memiliki gairah sufistik tersebut memiliki niat yang berbeda-beda. Ada yang sekedar ingin tahu, ada yang ingin mengetahui seluk beluk dan perkembangan tasawuf secara akademis, ada yang serius mendalaminya untuk kemudian mengamalkannya, ada yang menjadikannya sebagai tempat pelarian masalahnya, atau ada juga yang ingin menjadikannya sebagai ajang mencari jodoh (walaupun ana tahu, bahwa hal terakhir ini sedikit musykil untuk terwujud).
Bermuncullah fenomena baru, yaitu orang yang mengaku sufi, tetapi tidak mengikuti tarekat tertentu. Mungkinkah ?
Saudaraku, jika engkau ingin mengambil mutiara langsung dari kerangnya, maka engkau akan berhadapan dengan tiga syarat.
a. Syarat yang pertama adalah engkau berada di kawasan laut atau pantai. Tidak mungkin engkau mendapatkannya di gunung bukan ?
b. Syarat yang kedua adalah engkau harus naik perahu untuk sampai ke tempat kerang mutiara tersebut. Mungkinkah engkau berenang menggapainya, jika ternyata tempat kerang mutiara itu jauh dan dalam ? Tidakkah engkau khawatir jika engkau sudah kehabisan tenaga untuk berenang, sebelum engkau sampai ke tempat kerang mutiara itu ?
c. Syarat yang ketiga, adalah engkau harus turun ke air dan menyelam, karena kerang mutiara selalu berada di dasar laut, untuk menerima keindahan mutiara itu.
Dan ketiga syarat tersebut, dikenal di dunia tasawuf dengan istilah syariat, thariqat (jalan), dan hakikat.
Saudaraku, banyak orang awam yang melakukan syariat islam. Mereka shalat, zakat dan puasa. Tetapi mereka tidak mengikuti sebuah thariqat (jalan), sehingga pada akhirnya mereka tidak mencapai hakikat kenikmatan menjadi hamba Allah. Mereka hanya tahu bahwa al-quran itu indah, antara mengerti dan tidak. Jika mereka tahu para sahabat rasul merasakan kenikmatan dalam shalat, sehingga bisa shalat ratusan rakaat dalam semalam, kemudian melihat kenyataan bahwa mereka juga shalat, tetapi mereka heran, kenapa mereka tidak pernah merasakan kenikmatan yang sama. Tak heran, karena diantara tiga syarat tersebut, mereka hanya memenuhi satu diantaranya, sehingga mereka tidak berhasil mencapai yang diinginkan.
Saudaraku, sah-sah saja jika ada orang yang memiliki gairah sufi tetapi tidak berthariqat, jika niatmu hanya untuk kepentingan akademis, tetapi niscaya engkau tidak akan mendapatkan buah (hasil) dari pencarianmu. Harus diingat bahwa orang yang mengkaji tasawuf tanpa mengetahui substansi kedalaman amaliahnya atau tidak mengamalkan ajarannya, maka hasil analisa akademiknya akan terasa kering dan tidak memberikan sentuhan spiritual. Apalagi jika sebelumnya orang tersebut sudah memiliki pandangan bahwa tasawuf adalah produk filsafat murni atau orang tersebut mengikuti para orientalis dengan mengatakan bahwa tasawuf adalah gerakan sinkretisme islam, atau hanya bentuk gerakan kebatinan belaka. Hal tersebut dapat terjadi karena mereka hanya melihat kulit-kulit dan fenomena-fenomena yang ada di dalam tasawuf dari luar.
Maka saudaraku, jika engkau akan mengikuti ajaran tasawuf, maka engkau harus menggenapkan sekurangnya tiga syarat :
1. Memiliki keyakinan akan kebenaran ajaran tasawuf
2. Harus dibimbing oleh seorang (dan hanya seorang dalam satu waktu) mursyid (guru / syaikh) yang kamil dan mukammil. Tanpa bimbingan seorang mursyid, maka seseorang yang sedang menyelami kedalaman Ilahi dapat tersesat. Bukankah dalam dunia sehari-hari orang baru sangat mudah tersesat jika tidak memiliki penunjuk jalan yang berpengalaman ? Siapa yang berthariqat tanpa guru, maka gurunya adalah syaitan.
3. Mengikuti salah satu thariqat yang sanad atau silsilahnya sampai kepada Rasulullah saw.
Semoga engkau termasuk kepada hamba yang diridhai Allah.
Berkat pemahaman, ridha kepada Allah akan terwujud
Hanya melalui cahaya, pemahaman akan terwujud
Hanya melalui kedekatan, cahayamu memancar
Dan hanya berkat pertolongan, kedekatan akan tersingkap.
Alhamdulillaahirobbil'aalamiin
Komentar