Hikmah belajar toriqoh
ِﺀﺎَﻤَﻜُﺤْﻟﺍ ُﺭﺍَﻮْﻧَﺍ ُﻖِﺒْﺴَﺗ
ُﺮْﻳِﻮْﻨَﺘﻟﺍ َﺭﺎَﺻ ُﺚْﻴَﺤَﻓ ْﻢُﻬَﻟَﻮْﻗَﺍ
ُﺮْﻴِﺒْﻌَّﺘﻟﺍ َﻞَﺻَﻭ
"Para Ahi Hikmah terlebih dahulu memancarkan Nur
Hidayah sebelum menyampaikan ungkapan. Ketika
penyinaran telah sampai maka sampailah ungkapan Yang dimaksud dengan ungkapan itu bukan sekedar
ceramah ilmiyah sebagaimana yang dilakukan para
juru dakwah di panggung-panggung pengajian secara
umum, tetapi mengungkapkan sesuatu yang
tersembunyi dibalik keadaan yang lahir yang terbaca
oleh matahati orang-orang yang jiwanya bersih suci. Ekspresi sepontan yang dilakukan oleh para guru
mursyid sejati sebagai bentuk kepedulian yang ihlas
dalam rangka mentarbiyah ruhani para murid yang
dikasihi.
Ungkapan itu bisa dilakukan, karena sebelum ungkapan
itu keluar, hati para guru mursyid sejati itu terlebih dahulu telah dipancari “nur ilahiyah”. Ibarat bumi
ketika matahari telah memancarkan sinarnya maka
ufuk langit menjadi terang benderang. Demikian pula
keadaan hati yang bersih itu, ketika nur ilahiyah telah
memancar, maka memancarlah ungkapan dari
dalamnya. Untuk melihat di alam lahir, meskipun orang
mempunyai mata lahir yang sehat, tanpa sinar
matahari, mata yang sehat itu tidak dapat
dipergunakan untuk melihat dengan sempurna. Di alam
batin juga demikian, mata batin itu disebut bashiroh
atau matahati. Meskipun matahati seseorang itu sudah cemerlang, tanpa adanya nur ilahiyah yang
menyinarinya, matahati yang cemerlang itu tidak dapat
berfungsi untuk melihat hal yang ghaib.
Oleh karena kecemerlangan matahati para guru
mursyid itu sudah mampu mengalahkan sorot mata
lahirnya. Ketika dengan datangnya nur ilahiyah tersebut menjadikan matahati mereka menjadi tembus
pandang sehingga mereka mampu melihat isi dada
murid-muridnya. Mereka melihat penyakit rahasia yang
harus disembuhkan secara rahasia pula. Untuk
mengaktualisasikan maksud tujuan tersebut, maka
cara yang mereka pilih adalah dengan menyampaikan i’tibar atau ungkapan. Hal itu dilakukan supaya
masing-masing kebutuhan ruhani murid-muridnya
dapat dicukupi melalui ungkapan tersebut. Karena tidak
mungkin menyembuhkan penyakit rahasia kecuali
dengan jalan rahasia pula.
Demikianlah fungsi seorang guru mursyid terhadap murid-muridnya, sehingga apa saja yang dilakukan oleh
guru mursyid, sejatinya hanya untuk tujuan
mentarbiyah ruhani murid-murid tersebut. Namun
demikian, tanpa kemampuan seorang murid dalam
mencermati dan menindaklanjuti ungkapan guru
mursyidnya dengan benar, maka yang didapatkan oleh para murid dalam bertoriqoh barangkali hanya sekedar
pahala amal bukan kecemerlangan matahati atau yang
disebut dengan ma’rifatullah.
Yang dibutuhkan dalam bertoriqoh itu bukan hanya
sekedar pahala supaya orang bisa masuk surga di
akhirat. Karena jalan untuk masuk surga akhirat itu sudah jelas. Yakni apabila seorang hamba mendapat
ampunan dari Allah dari segala dosa dan kesalahannya.
Hal itu telah dijelaskan Allah dengan firman-Nya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga”(QS.Ali Imran(3)133)
Target perolehan yang harus dicapai oleh seorang salik
dalam berthoriqoh bukan supaya mereka menjadi
orang sakti mandra guna, atau punya kelebihan bisa
membantu penyembuhan orang sakit Non Medis, melainkan supaya mendapatkan “Surga Ma’rifat”
yang menurut ahlinya, merupakan kenikmatan yang
lebih nikmat dibandingkan surga akhirat. Itulah surga
dunia bagi orang beriman dan beramal sholeh, yakni
lapangnya rongga dada karena di dalamnya telah
disinari Nur Hidayah Allah sehingga apapun yang sedang terjadi dan dialami tidak menjadikan hati
mereka susah dan gelisa.
Untuk mendapatkan surga ma’rifat itu, syarat yang
paling utama adalah melaksanakan mujahadah di jalan
Allah. Artinya dengan sadar dan penuh pemahaman,
seorang hamba harus mampu mengedepankan pilihan Tuhannya daripada pilihan hatinya sendiri. Mereka
menindaklanjuti isyarat yang tertangkap dari ungkapan
guru mursyidnya untuk mengilmuni dirinya sendiri.
Melaksanakan maksud yang tersirat dari ungkapan itu
untuk menyembuhkan penyakit hatinya sendiri. Setelah
seorang salik mampu melaksanakan mujahadah tersebut dengan benar, hasilnya Allah akan
menurunkan hidayah baginya.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan
Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya
Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik(QS.Al-Ankabut(29);69)
Yang dimaksud dengan “Jalan-jalan Kami” dari ayat
di atas adalah jalan-jalan penyelesaian dari segala
masalah hidup yang sedang dihadapi. Itu merupakan
pilihan solusi yang ditawarkan Allah kepada hamba-
Nya sebagai buah ibadah yang mereka jalani. Dengan pilihan solusi yang terbentang di depan mata itu
menjadikan rongga dada orang yang beriman menjadi
lapang sehingga mereka mampu menjalani kehidupan
di dunia dengan nyaman.
Dalam kaitan mujahadah tersebut, tahap demi tahap
pengembaraan ruhaniyah yang dilakukan para murid thoriqoh selalu dimulai dengan menindaklanjuti
ungkapan guru mursyidnya. Mereka ibarat seorang
pasien yang melaksanakan petunjuk dan resep
dokternya, sehingga dalam melaksanakan mujahadah
itu benar-benar terbimbing oleh ahlinya. Ketika suatu
saat perjalanan tersebut mandek di tengah jalan, hal itu karena para salik itu sedang kebingungan memilih jalan
yang tepat untuk dilalui, ungkapan guru mursyidnya
ketika sedang bertatap muka, menjadikan perjalanan
itu dilanjutkan kembali.
Demikianlah cara hidup yang ditempuh oleh komunitas
orang yang berthoriqoh di jalan Allah tersebut. Secara lahir terkadang hubungan antara guru dan murid itu
tidak sedemikian dekat, tetapi secara batin bahkan
menyatu tidak dapat dipisahkan. Hati mereka tidak
pernah terpisah meski keadaan dan tempat terpaksa
harus memisahkan jasad-jasad mereka. Mereka selalu
beribadah dalam kebersamaan rasa dan nuansa meski ibadah itu dilakukan di tempat yang berbeda. Itulah
yang dimaksud dengan hakekat tawassul, pertalian
rasa antara seorang murid kepada guru mursyidnya
untuk bersama-sama menghadap kepada Tuhannya.
Hasilnya, maka diantara mereka tumbuh rasa
persaudaraan yang kuat, masing-masing saling mencintai hanya semata-mata karena Allah. Yang
demikian itu bukan berarti seorang murid mengkultus
individukan guru mursyidnya, tetapi mencintai gurunya
semata karena mencari jalan menuju ridlo Tuhannya
dan sang guru menyayangi muridnya karena
melaksanakan tugas tarbiyah sebagai seorang khilifah bumi zamannya. Itulah jalinan Ukhuwah Islamiyah yang
sejati. Itu bisa terjadi, karena masing-masing kehidupan
mereka selalui disinari nur hidayah Allah.
Apabila perjalanan amal utama itu tidak mendapatkan
bimbingan guru ahlinya, ketika terjadi kebingungang di
tengah jalan sehingga perjalanan salik itu menjadi mandek, inspirasi dan ilham yang masuk di dalam
rongga dada mereka seringkali datang dari bisikan
setan untuk menyesatkan jalan. Bisikan setan itu tidak
untuk merubah arah kiblat yang asalnya barat menjadi
timur, tetapi tanpa terasa tujuan ibadah itu berbelok
arah. Tujuan yang asalnya mencari ridlo Allah malah terjebak untuk mencari keuntungan duniawi. Para salik
itu dijerat di dalam pengakuan nafsunya sendiri
sehingga mereka menjadi sombong dan merasa benar
sendiri. Itulah yang dimaksud dari sebuah ungkapan:
“Siapa beramal tanpa guru maka gurunya setan”.
ُﺮْﻳِﻮْﻨَﺘﻟﺍ َﺭﺎَﺻ ُﺚْﻴَﺤَﻓ ْﻢُﻬَﻟَﻮْﻗَﺍ
ُﺮْﻴِﺒْﻌَّﺘﻟﺍ َﻞَﺻَﻭ
"Para Ahi Hikmah terlebih dahulu memancarkan Nur
Hidayah sebelum menyampaikan ungkapan. Ketika
penyinaran telah sampai maka sampailah ungkapan Yang dimaksud dengan ungkapan itu bukan sekedar
ceramah ilmiyah sebagaimana yang dilakukan para
juru dakwah di panggung-panggung pengajian secara
umum, tetapi mengungkapkan sesuatu yang
tersembunyi dibalik keadaan yang lahir yang terbaca
oleh matahati orang-orang yang jiwanya bersih suci. Ekspresi sepontan yang dilakukan oleh para guru
mursyid sejati sebagai bentuk kepedulian yang ihlas
dalam rangka mentarbiyah ruhani para murid yang
dikasihi.
Ungkapan itu bisa dilakukan, karena sebelum ungkapan
itu keluar, hati para guru mursyid sejati itu terlebih dahulu telah dipancari “nur ilahiyah”. Ibarat bumi
ketika matahari telah memancarkan sinarnya maka
ufuk langit menjadi terang benderang. Demikian pula
keadaan hati yang bersih itu, ketika nur ilahiyah telah
memancar, maka memancarlah ungkapan dari
dalamnya. Untuk melihat di alam lahir, meskipun orang
mempunyai mata lahir yang sehat, tanpa sinar
matahari, mata yang sehat itu tidak dapat
dipergunakan untuk melihat dengan sempurna. Di alam
batin juga demikian, mata batin itu disebut bashiroh
atau matahati. Meskipun matahati seseorang itu sudah cemerlang, tanpa adanya nur ilahiyah yang
menyinarinya, matahati yang cemerlang itu tidak dapat
berfungsi untuk melihat hal yang ghaib.
Oleh karena kecemerlangan matahati para guru
mursyid itu sudah mampu mengalahkan sorot mata
lahirnya. Ketika dengan datangnya nur ilahiyah tersebut menjadikan matahati mereka menjadi tembus
pandang sehingga mereka mampu melihat isi dada
murid-muridnya. Mereka melihat penyakit rahasia yang
harus disembuhkan secara rahasia pula. Untuk
mengaktualisasikan maksud tujuan tersebut, maka
cara yang mereka pilih adalah dengan menyampaikan i’tibar atau ungkapan. Hal itu dilakukan supaya
masing-masing kebutuhan ruhani murid-muridnya
dapat dicukupi melalui ungkapan tersebut. Karena tidak
mungkin menyembuhkan penyakit rahasia kecuali
dengan jalan rahasia pula.
Demikianlah fungsi seorang guru mursyid terhadap murid-muridnya, sehingga apa saja yang dilakukan oleh
guru mursyid, sejatinya hanya untuk tujuan
mentarbiyah ruhani murid-murid tersebut. Namun
demikian, tanpa kemampuan seorang murid dalam
mencermati dan menindaklanjuti ungkapan guru
mursyidnya dengan benar, maka yang didapatkan oleh para murid dalam bertoriqoh barangkali hanya sekedar
pahala amal bukan kecemerlangan matahati atau yang
disebut dengan ma’rifatullah.
Yang dibutuhkan dalam bertoriqoh itu bukan hanya
sekedar pahala supaya orang bisa masuk surga di
akhirat. Karena jalan untuk masuk surga akhirat itu sudah jelas. Yakni apabila seorang hamba mendapat
ampunan dari Allah dari segala dosa dan kesalahannya.
Hal itu telah dijelaskan Allah dengan firman-Nya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari
Tuhanmu dan kepada surga”(QS.Ali Imran(3)133)
Target perolehan yang harus dicapai oleh seorang salik
dalam berthoriqoh bukan supaya mereka menjadi
orang sakti mandra guna, atau punya kelebihan bisa
membantu penyembuhan orang sakit Non Medis, melainkan supaya mendapatkan “Surga Ma’rifat”
yang menurut ahlinya, merupakan kenikmatan yang
lebih nikmat dibandingkan surga akhirat. Itulah surga
dunia bagi orang beriman dan beramal sholeh, yakni
lapangnya rongga dada karena di dalamnya telah
disinari Nur Hidayah Allah sehingga apapun yang sedang terjadi dan dialami tidak menjadikan hati
mereka susah dan gelisa.
Untuk mendapatkan surga ma’rifat itu, syarat yang
paling utama adalah melaksanakan mujahadah di jalan
Allah. Artinya dengan sadar dan penuh pemahaman,
seorang hamba harus mampu mengedepankan pilihan Tuhannya daripada pilihan hatinya sendiri. Mereka
menindaklanjuti isyarat yang tertangkap dari ungkapan
guru mursyidnya untuk mengilmuni dirinya sendiri.
Melaksanakan maksud yang tersirat dari ungkapan itu
untuk menyembuhkan penyakit hatinya sendiri. Setelah
seorang salik mampu melaksanakan mujahadah tersebut dengan benar, hasilnya Allah akan
menurunkan hidayah baginya.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari
keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan
Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya
Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik(QS.Al-Ankabut(29);69)
Yang dimaksud dengan “Jalan-jalan Kami” dari ayat
di atas adalah jalan-jalan penyelesaian dari segala
masalah hidup yang sedang dihadapi. Itu merupakan
pilihan solusi yang ditawarkan Allah kepada hamba-
Nya sebagai buah ibadah yang mereka jalani. Dengan pilihan solusi yang terbentang di depan mata itu
menjadikan rongga dada orang yang beriman menjadi
lapang sehingga mereka mampu menjalani kehidupan
di dunia dengan nyaman.
Dalam kaitan mujahadah tersebut, tahap demi tahap
pengembaraan ruhaniyah yang dilakukan para murid thoriqoh selalu dimulai dengan menindaklanjuti
ungkapan guru mursyidnya. Mereka ibarat seorang
pasien yang melaksanakan petunjuk dan resep
dokternya, sehingga dalam melaksanakan mujahadah
itu benar-benar terbimbing oleh ahlinya. Ketika suatu
saat perjalanan tersebut mandek di tengah jalan, hal itu karena para salik itu sedang kebingungan memilih jalan
yang tepat untuk dilalui, ungkapan guru mursyidnya
ketika sedang bertatap muka, menjadikan perjalanan
itu dilanjutkan kembali.
Demikianlah cara hidup yang ditempuh oleh komunitas
orang yang berthoriqoh di jalan Allah tersebut. Secara lahir terkadang hubungan antara guru dan murid itu
tidak sedemikian dekat, tetapi secara batin bahkan
menyatu tidak dapat dipisahkan. Hati mereka tidak
pernah terpisah meski keadaan dan tempat terpaksa
harus memisahkan jasad-jasad mereka. Mereka selalu
beribadah dalam kebersamaan rasa dan nuansa meski ibadah itu dilakukan di tempat yang berbeda. Itulah
yang dimaksud dengan hakekat tawassul, pertalian
rasa antara seorang murid kepada guru mursyidnya
untuk bersama-sama menghadap kepada Tuhannya.
Hasilnya, maka diantara mereka tumbuh rasa
persaudaraan yang kuat, masing-masing saling mencintai hanya semata-mata karena Allah. Yang
demikian itu bukan berarti seorang murid mengkultus
individukan guru mursyidnya, tetapi mencintai gurunya
semata karena mencari jalan menuju ridlo Tuhannya
dan sang guru menyayangi muridnya karena
melaksanakan tugas tarbiyah sebagai seorang khilifah bumi zamannya. Itulah jalinan Ukhuwah Islamiyah yang
sejati. Itu bisa terjadi, karena masing-masing kehidupan
mereka selalui disinari nur hidayah Allah.
Apabila perjalanan amal utama itu tidak mendapatkan
bimbingan guru ahlinya, ketika terjadi kebingungang di
tengah jalan sehingga perjalanan salik itu menjadi mandek, inspirasi dan ilham yang masuk di dalam
rongga dada mereka seringkali datang dari bisikan
setan untuk menyesatkan jalan. Bisikan setan itu tidak
untuk merubah arah kiblat yang asalnya barat menjadi
timur, tetapi tanpa terasa tujuan ibadah itu berbelok
arah. Tujuan yang asalnya mencari ridlo Allah malah terjebak untuk mencari keuntungan duniawi. Para salik
itu dijerat di dalam pengakuan nafsunya sendiri
sehingga mereka menjadi sombong dan merasa benar
sendiri. Itulah yang dimaksud dari sebuah ungkapan:
“Siapa beramal tanpa guru maka gurunya setan”.
Komentar