Imam Syafi’i berkata: ”... Imam Malik-lah bintangnya ... ”





 Imam Abu 'Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abu 'Amir bin 'Amr bin Al-Harits, adalah seorang Imam Daru'l­Hijrah dan seorang faqih, pemuka mazhab Malikiyah. Silsilah beliau berakhir sampai kepada Ya'rub bin al-Qahthan al­Ashbahy.
Nenek moyangnya, Abu Amir, adalah seorang sahabat yang selalu mengikuti seluruh peperangan yang terjadi pads zaman Nabi, kecuali Perang Badar. Sedang kakeknya, Malik, adalah seorang tabi' in yang besar dan fuqaha kenamaan dan salah se­orang dari 4 orang tabi'in yang jenazahnya dihusung sendiri oleh Khalifah 'Utsman ke tempat pemakamannya.
Imam Malik bin Anas, dilahirkan pads tahun 93 Hijriah, di kola Medinah, setelah tak tahan lagi menunggu di dalam ra­him ibunya selama tiga tahun.


Perhatiannya dalam Ilmu Hadits
Sebagian seorang Muhaddits yang selalu menghormati dan menjunjung tinggi hadits Rasulullah saw, beliau bila hen­dak memberikan hadits, berwudlu lebih dahulu, kemudian duduk di atas alas salat dengan tenang dan tawadlu'. Beliau benci sekali memberikan hadits sambil berdiri, di tengah jalan atau dengan tergesa-gesa.
Guru-guru dan murid-muridnya
Beliau mengambil hadits secara qira'ah dari Nafi' bin Abi Nua'im, 'Az-Zuhry, Nafi', pelayan Ibnu 'Umar ra dan lain sebagainya.
Ulama-ulama yang pernah berguru kepada beliau antara lain: al-Auza'iy, Sufyan ats-Tsaury, Sufyan bin 'Uyainah, Ibnul­ Mubarak, asy-Syafi'iy dan lain sebagainya.
Keimanan dan Pendapat Ulama terhadapnya
Di samping keahliannya dalam bidang ilmu fiqih, seluruh ulama telah mengakuinya sebagai muhaddits yang tangguh. Seluruh warga negara Hijaz memberikan gelar kehormatan baginya "Sayyidi Fuqahai'l-Hijaz ".
Imam asy-Syafi'iy memujinya sebagai berikut:
 "Apabila dibi­carakan tentang hadits, maka Imam Malik-lah bintangnya dan apabila dibicarakan soal ke-ulama-an, maka Malik jugalah bintangnya. Tidak ada seorang yang lebih terpercaya dalam ilmu Allah daripada Imam Malik. Imam Malik dan Ibnu ‘Uyainah adalah dua orang sekawan, yang andaikata kedua orang tersebut tidak ada, niscaya hilang pula ilmu orang-orang Hijaz.”
Imam Yahya bin Said al-Qahthan dan Imam Yahya bin Ma’in menggelarinya sebagai  Amirulmukminin Fi'l-Hadits.
Imam Bukhary mengatakan bahwa sanad yang dikatakan ashahbu'l-asanid, ialah bila sanad itu terdiri dari Malik, Nafi' dan Ibnu 'Umar ra.
Sebagai seorang Muhadditsin yang konsekuen dengan ilmu yang dimilikinya, beliau tidak pernah melalaikan berjama'ah, selalu aktif menjenguk kawan-kawannya yang sedang sakit dan selalu melaksanakan kewajiban yang lain.

Beliau terkenal sebagai ulama yang keras dalam memperta­hankan pendapatnya, bila dianggap benar. Beliau pernah di­adukan oleh orang kepada Khalifah Ja'far bin Sulaiman, paman Ja'far al-Manshur dengan tuduhan tidak menyetujui pembai'atan Khalifah.
Menurut Ibnul Jauzy, beliau disiksa dengan dicambuk 70 kali, sampai ruas lengannya sebelah atas bergeser dari persendian pundaknya. Siksaan ini dilakukan, disebabkan fatwanya tidak sesuai dengan kehendak Khalifah.
Akibat dari penyiksaan ini, namanya bukan menjadi pudar, tetapi bahkan menjadi harum dan martabatnya menjadi tinggi di kalangan para ahli ilmu.
Karya-karyanya
Karya beliau yang sangat gemilang, dalam bidang ilmu hadits, ialah kitab "Al-Muwaththa” tersebut ditulis pada tahun 144 H atas anjuran Khalifah Ja'far al-Manshur, sewaktu bertemu di saat-saat menunaikan ibadah haji.
Menurut penelitian dan perhitungan yang dilakukan oleh Abu Bakar al-Abhary, jumlah atsar Rasulullah saw, sahabat dan tabi'in yang tercantum dalam kitab Muwaththa' sejumlah 1720 buah, dengan perincian sebagai berikut:
Yang musnad sebanyak 600 buah, yang mursal sebanyak 222 buah, yang mauquf sebanyak 613 buah dan yang maqthu' se­banyak 285 buah.
Ulama-ulama kemudian, yang men-syarah-kan kitab Muwath­tha', antara lain: 'Abdil-Barr, dengan nama "at-Tamhid wa'l ­Istidkar", 'Abul-Walid, dengan nama "AI-Mau'ib "I Az-Zarqa­ny dan Ad-Dahlawy dengan nama "At-Musawwa".
Di samping itu banyak juga ulama yang menyusun biografi rawi-rawi Imam Malik dan men-syarah-kan lafadh-lafadh gha­rib yang terdapat dalam kitab al-Muwwaththa'.
Tanggal wafatnya
Beliau mangkat pada hari Ahad, tanggal 14, Rabi'ul-aw­wal, tahun 169 (menurut sebagian pendapat, tahun 179 H) di Madinah, dengan meninggalkan 3 orang putra: Yahya, Muhammad dan Hammad.

Dikutip dari “Ikhtishar Musthalahul Hadits” Drs. Fatchur Rahman



Mengangkat Tangan Ketika Berdoa
Di dalam shohih Bukhori disebutkan beberapa hadits (No. 973, 1634, 2407, 2769, 3113, 3994, 4084, 5904, 6145 dan 6464,  tentang mengangkat tangan di saat berdoa. Di antaranya adalah sebagai berikut :
Hadits ke-1634:
“Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Abdullah berkata, telah menceritakan kepada saya saudaraku dari Sulaiman dari Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab dari Salim bin 'Abdullah bahwa 'Abdullah bin 'Umar ra melempa melempar Al Jumrah Ad r Ad-Dunya (Al Ulaa, awal) dengan tujuh kerikil kemudian bertakbir pada setiap kali lemparannya, kemudian dia maju hingga sampai pada permukaan yang datar dia berdiri menghadap qiblat dengan agak lama, lalu berdo'a dengan mengangkat kedua tangannya, kemudian melempar jumrah Al Wustho seperti itu pula, dia mengambil jalan sebelah kiri pada dataran yang rata lalu berdiri menghadap qiblat dengan agak lama, lalu berdo'a dengan mengangkat kedua tangannya, kemudian melempar jumrah Al 'Aqabah dari dasar lembah dan dia tidak berhenti disitu lalu berkata: "Begitulah aku melihat Nabi saw mengerjakannya".

Hadits ke-5904:
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam meminta diambilkan air, lalu beliau berwudlu, setelah itu beliau mengangkat tangannya sambil berdo'a: "Ya Allah, ampunilah 'Ubaid Abu 'Amir." Hingga aku melihat putih ketiaknya, lalu beliau melanjutkan do'anya: “Ya Allah, jadik jadikanlah ia termasuk dari orang yang terbaik di antara manusia di hari Kiamat kelak.”

Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FADLILAH MEMBACA DALAIL KHOIROT AL JAZULI

ISTIQOMAH DAN TA'ALUQ PADA GURU