Kontroversi Ke Lima; ”Pernyataan Ibn Taimiyah bahwa Neraka dan siksaan siksaan terhadap orang kafir di dalamnya memiliki penghabisan”
Termasuk kontroversi besar yang menggegerkan dari Ibn Taimiyah adalah
pernyataannya bahwa neraka akan punah, dan bahwa siksaan terhadap orang-orang kafir
di dalamnya memiliki penghabisan. Kontroversi ini bahkan diikuti oleh murid
terdekatnya; yaitu Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah22. Dalam karyanya berjudul ar-Radd ’Ala
Man Qala Bi Fana’ an-Nar, Ibn Taimiyah menuliskan sebagai berikut: ”Di dalam kitab
al-Musnad karya ath-Thabarani disebutkan bahwa di bekas tempat neraka nanti akan
tumbuh tumbuhan Jirjir. Dengan demikian maka pendapat bahwa neraka akan punah
dikuatkan dengan dalil dari al-Qur’an, Sunnah, dan perkataan para sahabat. Sementara
mereka yang mengatakan bahwa neraka kekal tanpa penghabisan tidak memiliki dalil
baik dari al-Qur’an maupun Sunnah”23.
Pernyataan Ibn Taimiyah ini jelas merupakan dusta besar terhadap para ulama
Salaf dan terhadap al-Imam ath-Thabarani. Anda jangan tertipu, karena pendapat itu adalah ”akal-akalan” belaka. Anda tidak akan pernah menemukan seorang-pun dari para
ulama Salaf yang berkeyakinan semacam itu. Pernyataan Ibn Taimiyah ini jelas telah
menyalahi teks-teks al-Qur’an dan hadits serta ijma’ seluruh orang Islam yang telah
bersepakat bahwa surga dan neraka kekal tanpa penghabisan. Dalam kurang lebih dari 60
ayat di dalam al-Qur’an secara sharih (jelas) menyebutkan bahwa surga dengan segala
kenikmatan dan seluruh orang-orang mukmin kekal di dalamnya tanpa penghabisan, dan
bahwa neraka dengan segala siksaan serta seluruh orang-orang kafir kekal di dalamnya
tanpa penghabisan. Di antaranya dalam QS. Al-Ahzab: 64-65, QS. At-Taubah: 68, QS.
An-Nisa: 169, dan berbagai ayat lainnya.
22 Lihat Ibn al-Qayyim dalam Hadi al-Arwah Ila Bila al-Afrah, h. 579 dan h. 582
23 Ar-Radd ‘Ala Man Qala Bi Fana’ an-Nar, h. 67
Kemudian di dalam hadits-hadits shahih juga telah disebutkan bahwa keduanya
kekal tanpa penghabisan. Di antaranya hadits shahih riwayat al-Bukhari dari sahabat Abu
Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
يقال لأهل الجنة: يا أهل الجنة خلود لا موت، ولأهل النار: خلود لا موت (رواه البخاري)
”Dikatakan kepada penduduk surga: ”Wahai penduduk surga kalian kekal
tidak akan pernah mati”. Dan dikatakan bagi penduduk neraka: ”Wahai
penduduk neraka kalian kekal tidak akan pernah mati”. (HR. al-Bukhari)
Ini adalah salah satu kontroversi Ibn Taimiyah, -selain berbagai kontroversi
lainnya- yang memicu ”peperangannya” dengan al-Imam al-Hafizh al-Mujtahid
Taqiyyuddin as-Subki. Hingga kemudian al-Imam as-Subki membuat risalah berjudul
”al-I’tibar Bi Baqa al-Jannah Wa an-Nar” sebagai bantahan keras kepada Ibn Taimiyah,
yang bahkan beliau tidak hanya menyesatkannya tapi juga mengkafirkannya. Di antara
yang dituliskan al-Imam as-Subki dalam risalah tersebut adalah sebagai berikut:
”Sesungguhnya keyakinan seluruh orang Islam bahwa surga dan neraka tidak
akan pernah punah. Kesepakatan (Ijma’) kayakinan ini telah dikutip oleh Ibn
Hazm, dan bahwa siapapun yang menyalahi hal ini maka ia telah menjadi
kafir sebagaimana hal ini telah disepakati (Ijma’). Sudah barang tentu hal ini
tidak boleh diragukan lagi, karena kekalnya surga dan neraka adalah perkara
yang telah diketahui oleh seluruh lapisan orang Islam. Dan sangat banyak dalil
menunjukan di atas hal itu”24.
24 Lihat al-I’tibar Bi Baqa’ al-Jannah Wa an-Nar dalam ad-Durrah al-Mudliyyah Fi ar-Radd ‘Ala
Ibn Taimiyah karya al-Hafizh ‘Ali ibn ‘Abd al-Kafi as-Subki, h. 60
Pada bagian lain dalam risalah tersebut, al-Imam as-Subki menuliskan:
”Seluruh orang Islam telah sepakat di atas keyakinan bahwa surga dan neraka
kekal tanpa penghabisan. Keyakinan ini dipegang kuat turun temurun antar
generasi yang diterima oleh kaum Khalaf dari kaum Salaf dari Rasulullah.
Keyakinan ini tertancap kuat di dalam fitrah seluruh orang Islam yang telah
diketahui oleh seluruh lapisan mereka. Bahkan tidak hanya orang-orang Islam,
agama-agama lainpun di luar Islam meyakini demikian. Maka barang siapa
meyalahi keyakinan ini maka ia telah menjadi kafir”25.
26 Untuk lebih konperehensif silahkan baca al-Maqalat as-Sunniyyah Fi Kasyf Dlalalat Ahmad Ibn
Taimiyah karya al-Hafizh ‘Abdullah al-Habasyi.
Komentar