MAA-UN




مَآءٌ
   Allah menyebutkan kata ”maa-un” atau ”al-maa-u” yang berarti ”air” tidak kurang dari 52 ayat di dalam al-Quran. Air termasuk unsur terpenting dalam kehidupan di alam semesta ini, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ambiyaa: 30, ”Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” maka jika k
Maka jika kita perhatikan kehidupan di sekitar kita saja, kita akan mengakui akan kebenaran firman Allah. Tubuh manusia 70% nya adalah air, benih tidak akan tumbuh tanpa adanya air, hewan ternak akan mati jika tidak mendapatkan minum. Bahkan bumi pun akan merekah keras bila hujan tak membasahinya. Allah SWT berfirman :
Mohon untuk tidak dibaca ketika khutbah
 
Dan di antara tanda-tanda-Nya (Ialah) bahwa kau lihat bumi kering dan gersang, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan Yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat:  39)

Air dalam syari’at
Di dalam syari’at agama air menduduki posisi yang utama. Air dipergunakan sebagai alat bersuci dari hadats dan najis. Allah SWT berfirman :
“ Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit  atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air  atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.(QS. Al-Maidah: 6)
Dalam permasalahan zakat, air digunakan sebagai pembeda untuk menentukan besarnya zakat yang harus dikeluarkan. Nabi bersabda:
“Pada tanaman yang menggunakan pengairan alami, zakatnya adalah sepersepuluh (10%), dan pada tanaman yang disirami dengan alat bantu, zakatnya adalah seperduapuluh (5%).” HR. Bukhari & Muslim.
Air sebagai penyembuh
Disebutkan di dalam kitab shahih Bukhari jilid 4 halaman 39 (hadits ke 1670) :
Dari Abu Sa’id al-Khudri ra : Sejumlah sahabat Nabi saw datang ke salah satu desa orang Arab dan mereka tidak diterima sebagai tamu. Ketika mereka dalam keadaan demikian, pemimpin penduduk desa itu disengat binatang. Orang desa itu bertanya : “Adakah kamu mempunyai obat atau adakah di antara kamu yang pandai membaca mantera?” Para sahabat menjawab: “Kamu tidak mau menerima kami sebagai tamu. Kami tidak akan mengobatinya sebelum kamu memberikan sesuatu kepada kami.” Mereka lalu memberikan beberapa ekor kambing. Lalu salah seorang dari mereka membaca Ummul Quran (al-Fatihah), setelah itu mengumpulkan air ludahnya di mulutnya dan meludahi yang sakit itu. Orang itu lalu sembuh. Mereka menyerahkan kambing. Para sahabat berkata: “Kami bertanya dahulu kepada Nabi saw, baru kami ambil (kambing itu).” Lalu mereka pergi bertanya kepada beliau. Beliau tertawa dan berkata: “Siapa yang memberitahukan kepadamu bahwa ayat itu (al-Fatihah) mantera? Ambillah kambing itu dan beri saya sebagian.” HR. Bukhari
Hadits berikutnya dari ‘Aisyah ra, Adalah Rasulullah saw berdoa untuk orang sakit: “Dengan nama Allah. Tanah bumi kami, dengan air ludah sebagian kami, sembuhkanlah penyakit kami, dengan izin Tuhan kami.” HR. Bukhari  
Ternyata air bisa dipergunakan sebagai media penyembuh, pada kasus di atas menggunakan air ludah yang sebelumnya dibacakan al-Fatihah, di mana bacaan surat al-Fatihah termasuk bacaan atau ucapan yang baik bahkan surat tersebut merupakan wahyu dari Allah yang maha menguasai alam semesta dan yang maha memberikan kesembuhan.
Penelitian tentang air
Seorang peneliti Jepang bernama Masaru Emoto meneliti tentang kristal air. Dari berbagai contoh air yang ia peroleh dari air alami dan air mineral, air kota dan air desa, air danau yang tercemar dan air hujan, yang didinginkan hingga -25 oC kemudian diamati dengan menggunakan microscope electron berkecepatan tinggi, ternyata masing-masing air tadi mempunyai bentuk kristal yang berbeda-beda. Kemudian ia juga meneliti air dari sumber yang sama kemudian diberi perlakuan yang berbeda, misalnya diberi ucapan-ucapan dan tulisan-tulisan seperti “Terima kasih” , “Kamu bodoh”, “Kebahagiaan”, doa dan sebagainya. Dia juga menggunakan makanan sebagai bahan penelitian.
Dari hasil penelitian itu Masaru Emoto mendapatkan temuan yang luar biasa. Ia menyimpulkan bahwa air atau makanan bisa menerima respon atas energi lain yang diberikan kepadanya, baik berupa ucapan maupun tulisan. Air yang diberi  energi berupa ucapan-ucapan atau tulisan-tulisan yang baik, maka akan membentuk kristal-kristal yang indah dan bagus, sebagai efek atau respon dari energi positif. Sementara air yang diberi ucapan atau tulisan yang bermakna jelek maka akan membentuk kristal-kristal yang tidak beraturan, sebagai dampak dari energi negatif yang direspon oleh air tersebut.
Dari pengalaman di atas maka kita dapat menarik kesimpulan, jika air bisa dipengaruhi oleh energi yang diberikan kepadanya, berarti tubuh kita yang 70%-nya terdiri dari air juga bisa dipengaruhi oleh energi yang berupa ucapan, tulisan, pandangan dan sebagainya.

Islam telah menerapkan sejak awal
Jika Masaru Emoto adalah seorang peneliti abad ini yang menemukan kristal air dan pengaruh-pengaruhnya terhadap respon energi yang diberikannya, maka Islam justru sudah menerapkan pengaruh energi positif terhadap air dan tubuh sejak berabad-abad yang lalu, yaitu sejak diutusnya Muhammad saw sebagai Rasul.
Sebagaimana hadits yang telah disebutkan di atas bahwa Nabi saw dan para sahabatnya telah menggunakan air untuk menyembuhkan penyakit yang sebelumnya telah diberi respon energi positif berupa ayat-ayat Quran dan doa.
Mohon untuk tidak dibaca ketika khutbah
 
Hal yang sama juga dilakukan oleh para kyai atau ulama terdahulu sebagai bentuk itba’ atau mengikuti contoh yang telah diamalkan oleh Nabi dan para  sahabat, mereka  memberikan                                       
segelas air yang di-doa-i dan diberi tulisan ayat-ayat al-Quran kemudian diminumkan kepada orang yang menderita sakit.
Lebih dari pada itu, ternyata Islam telah menerapkannya di setiap sisi kehidupan. Kita dianjurkan untuk selalu membaca doa ketika akan makan dan minum,  akan tidur dan bangun tidur, hendak bepergian dan saat naik kendaraan, di saat jalan naik, datar dan jalan turun, di saat masuk dan keluar tempat membuang hajat dan selalu berdzikir di setiap waktu dan keadaan. Maka tidak ada yang lebih benar dari firman Allah SWT ketika berbicara tentang orang yang berakal :
“(yaitu) orang-orang yang berdzikir mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”  QS. Ali Imran: 191
Tak disangkal bahwa orang yang dalam hidupnya selalu diliputi dengan ucapan baik, tidak melihat dan mendengarkan kecuali yang baik-baik, maka air dalam tubuh akan merespon dengan baik, yang akhirnya akan memunculkan akhlaq atau perilaku yang baik pula.       Wallau a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FADLILAH MEMBACA DALAIL KHOIROT AL JAZULI

ISTIQOMAH DAN TA'ALUQ PADA GURU