Menangis karena Allah
Kita pernah melihat orang meneteskan air mata ketika mendengar ayat al-Quran dilantunkan, atau menangis pada saat membaca ayat-ayat al-Quran yang menerangkan tentang azab dan siksa neraka, ada pula di saat mendirikan sholat baik munfarid maupun berjamaah. Bahkan ada pula yang menangis hanya sekedar melihat dan memikirkan tanaman dan hewan yang ada di sekitar kita. Adakah keterangan dari al-Quran dan hadits yang menjelaskan tentang menangis karena Allah?
Di dalam al-Quran kita bisa menemukan ayat yang menerangkan tentang menangis yaitu pada surat al-Israa ayat 109, yang artinya :
“Dan sujudlah mereka sambil menangis dan bertambah khusyu’.” Al-Israa:109
Imam Qurtubi di dalam tafsirnya menjelaskan kata “yabkuuna” (menangis) dalam ayat di atas adalah menjadi dalil diperbolehkannya menangis di saat mengerjakan sholat karena takut kepada Allah atau karena takut akan kemaksiatan
terhadap agama Allah. Dengan kata lain bahwa menangis itu tidak menyebabkan batalnya sholat. Selanjutnya imam Qurtubi menjelaskan, bahwa Ibnul Mubarok menjelaskan dari Hammad bin Salamah dari Tsabit bin Bunaaniyyi dari Muthorrif bin ‘Abdullah bin Asysyikhkhir dari ayahnya berkata: “Saya mendatangi Nabi saw di saat beliau sedang mengerjakan shalat, dan dari dalam beliau ada suara gemuruh karena menangis seperti gemuruhnya bejana (yang memasak air). Sedangkan di dalam kitab imam Abu Dawud disebutkan: “dan di dalam dada beliau ada suara gemuruh karena menangis seperti gemuruhnya penggilingan.”
Di dalam surat an-Najm ayat 59-60 Allah berfirman:
“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini (yaitu al-Quran). Dan kamu tertawakan dan tidak menangis?” an-Najm:59-60
Imam Qurtubi menjelaskan, diriwayatkan bahwasannya Nabi saw setelah turunnya ayat ini tidak lagi terlihat tertawa kecuali hanya sebatas tersenyum. Dan berkata Abu Hurairah ra: “Ketika turun ayat ini (afamin hadzal hadiitsa ta’jabuuna) berkatalah ahli shuffah “Innalillaahi wainnaa ilaihi rooji’uun” kemudian mereka menangis hingga mengalir air mata di pipi-pipi mereka. Maka tatkala Nabi saw mendengar tangisan mereka maka menangislah Nabi saw bersama tangisan para ahli suffah, kemudian bertambah menangislah kami karena tangisan Nabi. Kemudian Nabi saw bersabda:
“Tidak masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah dan tidak masuk surga orang yang selalu berbuat maksiat kepada Allah”. Dan berkata Abu Hazm: “Malaikat Jibril turun kepada Nabi saw sedangkan di samping Nabi ada seseorang yang sedang menangis, maka Jibril bertanya kepada Nabi saw: “Siapa ini?” Nabi saw menjawab: “Ini si fulan.” Maka berkata Jibril: “Sesungguhnya kami menahan semua amal anak Adam kecuali tangisan (karena takut kepada Allah), maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan memadamkan panasnya neraka jahannam dengan tiap-tiap tetesan air mata.”
Ibn Mas'ud ra berkata: Rasulullah saw bersabda kepadaku: Bacakan kepadaku Al-Qur'an. Saya berkata: Ya Rasulullah, bagaimana saya akan membacakan kepadamu, padahal kepadamulah Qur'an telah diturunkan. Bersabda Nabi: Aku suka mendengar dari lain orang. Maka saya baca surat Annisa hingga ayat:
“Fakaifa idza ji'na min kulli ummatin bisyahidin, wa ji'na bika ala haa'ulla'i syahida.”
“Bagaimanakah bila Kami telah mendatangkan kamu sebagai saksi atas semua mereka itu.”
Bersabda Nabi: Cukuplah. Ibnu Mas'ud berkata : maka saya menoleh kepadanya, tiba-tiba kedua mata Nabi berlinang-linang air mata. HR. Bukhari- Muslim
Anas ra berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw berkhutbah, belum pernah saya mendengar khutbah seperti itu, lalu beliau bersabda dalam khutbahnya itu: “Andaikan kamu mengetahui sebagaimana yang aku ketahui, niscaya sedikit tertawa dan banyak menangis.” Anas berkata: Seketika itu para sahabat menutup muka masing-masing, sambil menangis terisak-isak. HR. Bukhari-Muslim
Abu Hurairah ra berkata: Bersabda Rasulullah saw: “Tidak akan masuk ke dalam neraka seorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah, hingga dapat kembali air susu ke dalam tetek. Dan tidak akan dapat berkumpul debu dalam jihad fisabilillah dengan asap neraka Jahannarn”. HR. Attirmidzy
Abu Hurairah ra berkata: Bersabda Rasulullah saw: “Tujuh macam orang yang bakal dinaungi Allah dibawah naunganNya, pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan Allah.
1. Imam (Pemimpin/kepala) yang adil.
2. Pemuda yang tumbuh dan tetap ta'at ibadat kepada Allah.
3. Seorang yang hatinya selalu tergantung pada masjid (Ya'ni memperhatikan waktu-waktu sembahyang jama'ah di masjid).
4. Dua orang Yang berkasih-sayang semata-mata karena Allah baik ketika bertemu atau sesudah berpisah.
5. Seorang laki yang diajak berzina oleh wanita bangsawan yang cantik, maka la tolak dengan kata: Aku takut kepada Allah.
6. Seorang yang ber sedekah dirahasiakan, sehingga tidak diketahui oleh yang kiri apa yang dilakukan oleh kanannya.
7. Seorang yang berdzikir ingat kepada Allah sendirian, sehingga bercucuran air mata. HR. Bukhari-Muslim
Anas ra berkata: Pada suatu hari sesudah wafat Nabi saw Abubakar berkata kepada Umar: Mari kami pergi ke rumah umm Aiman sebagaimana Rasulullah dahulu sering ziyarah kepadanya. Dan ketika sampai kerumah Umm Aiman tiba-tiba Umm Aiman menangis. Kedua tamu ini ber tanya: Apakah yang menyebabkan kau menangis? Tidakkah kau telah mengetahui bahwa yang tersedia untuk Rasulullah di sisi Allah jauh lebih baik? Jawab Umm Aiman: Aku tidak menangis karena itu, tetapi saya menangis karena wahyu dari langit kini telah putus (terhenti). Keterangan ini menyebabkan kedua orang itu menangis bersama Umm Aiman ra. HR. Muslim
Ibn Umar ra berkata: Ketika telah keras sakit Rasulullah saw dan diingatkan untuk shalat berjama'ah, Nabi bersabda: “Suruhlah Abubakar menjadi imam.” Siti 'Aisyah berkata: Abubakar itu seorang yang lemah hati, jika membaca Qur'an tidak dapat menahan tangisnya. Nabi bersabda: “Suruhlah Abubakar menjadi imam pada orang-orang itu.” Pada riwayat yang lain, Siti 'Aisyah berkata: Abubakar jika berdiri di tempatmu, orang tidak akan mendengar suaranya karena tangisnya. HR. Bukhari-Muslim
Ibrahim bin Abdurrahman bin 'Auf menceriterakan Ketika Abdurrahman bin 'Auf menghadapi makanan untuk berbuka puasa, tiba-tiba ia berkata: Mush'ab bin Uma seorang sahabat yang jauh lebih baik daripadaku ketika terbunuh mati syahid, tidak didapatkan kafan untuknya selain kain selimut, jika ditutupkan kepala terbuka kakinya, dan bila ditutupkan kakinya terbuka kepalanya. Kemudian kini kami telah diberi kekayaan dunia yang seluas-luasnya, maka kami kuatir kalau-kalau amal kebaikan kami telah dibayar kontan di dunia (yang berarti sudah tidak akan dapat lagi di akhirat) kemudian Abdurrahman menangis dan meninggalkan makanan yang dihidangkan itu. HR. Bukhari
Abu Umamah (Shudajju) bin Ajlan Albahily ra berkata: Bersabda Nabi saw: Tiada suatu yang lebih disukai oleh Allah dari dua tetesan dan dua bekas. Tetesan air mata karena takut kepada Allah, dan tetesan darah dalam mempertahankan agama Allah. Adapun dua bekas: Maka bekas dalam perjuangan fisabilillah, dan bekas perjuangan kewajiban kepada Allah. HR. Attirmidzy. Wallahu a’lam
Komentar