Mengungkap kebodohan wahabi di dalam memahami nash hadits (bab Lafdzul Quran) bagian I





فَلاَ تَضْرِبُوا لِلَّهِ اْلأَمْثَالَ

“ Maka jangan kamu jadikan amtsal bagi Allah “ (QS. An-Nahl : 74)

Artinya jangan buat penyerupaan dan persamaan Allah dengan makhluk-Nya, karena sesungguhnya Allah tidak ada yang menyerupainya sama sekali, Dzatnya tidak serupa dengan Dzat lainnya dan sifat-Nya tidak serupa dengan sifat lain-Nya.

Wahabi lupa dengan ayat ini atau memang sengaja mengesampingkan ayat ini dan lebih memilih akidah Yahudi yang menjisimkan dan mensifati Allah dengan makhluk-Nya.

Sayyydina Ali Ra berkata :

سيرجع قوم من هذه الأمة عند إقتراب الساعة كفارا يُنكرون خالقهم فيصفونه بالجسم والأعضاء 

“ Suatu kaum dari umat ini mendekati kiamat akan kembali menjadi kafir, mereka mengingkari Pencipta mereka, lalu mensifati-Nya dengan jisim dan anggota tubuh “.

Inilah gambaran wahabi-salafi, mereka mengingkari sifat-sifat Allah yang Maha Suci dari segala keserupaan kepada sesuatu apapun., tetapi mereka malah mensifati Allah dengan sifat-sifat makhluknya bahkan sampai pada taraf menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Nadzu billahi min dzaalik, kita berlindung dari kesesatan ajaran wahabi-salafi ini..

Wahabi berkeyakinan bahwa Lafadz Quran yang dibaca oleh kaum muslimin yang tertulis di mushaf adalah bersifat qadim dan azali dengan membawakan dalil-dalil hadits yang menurut persepsi mereka itu adalah hujjah bagi mereka tanpa mau memahaminya dengan benar dan ilmiyyah.

Padahal Ibnu Taimiyyah al-harrani mengatakan :



" Barangsiapa yang mengatakan bahwa huruf tertentu atau kalimat tertentu itu bersifat qadim 'ain, maka dia telah melakukan ucapan bid'ah yang bathil dalam syare'at dan akal ". (Majmu'ah ar-Rasaail : 381)

Tanggapan :

Sebelum saya meungkap kebodohan dan dusta wahabi dalam masalah ini, terlebih dahulu saya akan tampilkan dalil-dalil ulama Salaf Shaleh berkenaan masalah ini :

Imam Abu Hanifah (150 H) Mengatakan :

وصفاته في الأزل غير محدَثة ولا مخلوقة فمن قال إنها مخلوقة أو محدَثة أو وقف أو شكّ فهو كافر بالله تعالى والقرءان أي كلام الله تعالى في المصاحف مكتوب وفي القلوب محفوظ وعلى الألسن مقروء وعلى النبي عليه الصلاة والسلام منزل ولفظنا بالقرءان مخلوق وكتابتنا له مخلوقة وقراءتنا مخلوقة والقرءان غير مخلوق

“ Sifat-sifat Allah di Azali tidaklah baru dan bukan makhluk (tercipta), barangsiapa yang mengatakan itu makhluk atau baru, atau dia diam (tidak berkomentar), atau dia ragu maka dia dihukumi kafir kepada Allah. Al-Quran yakni Kalamullah tertulis di mushaf-mushaf, terjaga dalam hati, terbaca dalam lisan dan diturunkan kepada Nabi Saw. Dan lafadz kami dengan al-Quran adalah makhluk, penulisan kami kepada Al-Quran adalah makhluk, bacaan kami dengannya adalah makhluk sedangkan al-Quran bukanlah makhluk “.

Kemudian imam Abu Hanifah melanjutkan :

ونحن نتكلم بالآلات والحروف والله تعالى يتكلم بلا ءالة ولا حروف والحروف مخلوقة وكلام الله تعالى غير مخلوق

“ Kami berbicara dengan alat dan huruf sedangkan Allah Ta’ala berbicara tanpa alat dan huruf, sedangkan huruf itu makhluk dan kalamullah bukanlah makhluk “. (Disebutkan dalam kitab al-Fiqh al-Akbar,al-Washiyyah, al-Alim w al-Muta’allim dan lainnya)

Penjelasan :

Dengan terang-terangan imam Abu Hanifah yang merupakan ulama salaf di awal kurun seratus hijriyyah ini mengatakan lafadz Quran dan penulisan al-Quran adalah makhluk sedangkan al-Quran kalamullah bukanlah makhluk.

Dari sinilah berangkat ulama asy-Ariyyah dan Maturudiyyah bahwa definsi al-Quran terbagi menjadi dua sebagaimana pendapat imam Abu Hanifah di atas. Yakni Jika yang dimaksudkan adalah kalam Allah, maka dia adalah kalam yang qadim dan azali yang suci dari alat, suara dan huruf, sedangkan jika yang dimaksudkan adalah kalimat yang terlafadzkan dan terbukukan dalam kertas-kertas, maka dia adalah kalimat-kalimat berhuruf dan bersuara yang baru dan mengibaratkan kepada kalam Allah yang qadim dan azali tersebut.

Contoh logikanya seperti ini : Jika seorang mengatakan “ ALLAH “, maka lafadz Allah ini menunjukkan kepada Dzat yang Maha Suci yang tidak menyerupai sesuatu apapun, sedangkan huruf-huruf isim (Allah) tersebut adalah makhluk yang menunjukkan kepada Allah yang berbicara tanpa alat, suara dan huruf.

Kalau huruf yang ada dalam mushaf yang dibaca itu qadim (maha dahulu), maka bagaimana lafadz Allah dalam kalimat “ BISMILLAH “ didahului oleh huruf yang lain yatu huruf mim, sin dan ba’? bukankah qadim itu bermakna maha dahulu yang awalnya tidak ada permulaan ?? lalu kenapa laafdz Allah didahului dengan huruf mim? Knapa huruf mim didahului dengan huruf sin? Kenapa huruf sin didahului huruf ba’?? mana sifat keqadimannya ??

Sangat mudah dipahami sebenarnya, tapi memang sudah dinash oleh Nabi bahwa Wahabi-salafi tidak akan bisa cerdas, lemah akal dan tidak punya kompeten dalam masalah agama :

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمانِ قَومٌ أَحْدَاثُ اْلأَسْنَانِ سُفَهَاءُ اْلأَحْلاَمِ يَقُوْلُوْنَ قَوْلَ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَؤُونَ اْلقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُوْنَ مِنَ الدِّيْنَ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“ Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda (tidak punya pengalaman dalam ilmu ) dan lemahnya akal (tidak cerdas), berucap dengan ucapan sbeaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya. (HR. Imam Bukhari : 3342)

Al-Imam al-Isfiraini (w 418 H) mengatakan :

 وأن تعلم أن كلام الله تعالى ليسى بحرف ولا صوت لأن الحرف والصوت يتضمنان جواز التقدم والتأخر، وذلك مستحيل على القديم سبحانه

“ Dan hendaknya kamu mengetahui bahwa sesungguhnya kalam Allah itu tidaklah dengan huruf dan suara karena huruf dan suara mengandung bolehnya pendahuluan dan pengakhiran, yang demikian itu mustahil bagi Allah yang Maha Qadim “. (at-Tafsir fiddin : 102)

Imam Mula Ali al-Qari al-Hanbali mengatakan :

ومبتدعة الحنابلة قالوا: كلامه حروف وأصوات تقوم بذاته وهو قديم، وبالغ بعضهم جهلاً حتى قال: الجلد والقرطاس قديمان فضلاً عن الصحف، وهذا قول باطل بالضرورة ومكابرة للحس للإحساس بتقدم الباء على السين في بسم الله ونحوه"

“ Para ahli bid’ah dari kalangan Hanabilah berkata : “ Kalam Allah berupa huruf dan suara yang berdiri dalam Dzat-Nya dan itu qadim. Bahkan ada yang sampai berlebihan kebodohan mereka dengan berkata : “ Jilid dan Kertas itu bersifat qadim apalagi mushaf “, ini adalah ucapan BATHIL  secara pasti dan sifat mukabarah…” (Syarh al-Fiqh al-Akbar : 29-35)

Lihat imam Ali al-Qari yang merupakan pengikut asli madzhab Hanbali (bukan pengikut palsu madzhab Hanbali seprti Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, Albani, Ibn Baz, Ibnu Utsaimin, Ibnu al-Fauzan dkk) mengatakan mereka yang meyakini kalam Allah berupa huruf dan suara adala para pelaku bid’ah yang merusak madzhab imam Ahmad bin Hanbal.

Dan masih banyak lagi para ulama yang sependapat dengan imam Abu Hanifah, untuk menyingkat saya akan membahas dusta dan kebodohan wahabi berikut :

Kebodohan pertama : Wahabi membawakan hadits berikut :

ويذكر عن جابر  فينادى بصوت فيسمعه من بَعُدَ كما يسمعه من قَرُبَ، أنا الملك أنا الديّان

 Disebutkan dari Jabir : “ Maka diserukan dengan suara maka didengarlah oleh oaran yang jauh sebagaimana didengar oleh orang yang dekat “ Akulah raja akulah yang berkuasa “.

Jawaban :

Hadits ini disebutkan oleh imam Bukhari dengan shighat tamridh (bentuk kata yang menunjukkan adanya cacat) bukan shighat jazm  (bentuk kata yang menunjukkan kesahihan hadits). Merupakan qaidah yang disepakati ulama adalah setiap hadits yang disebutkan atau dita’liq oleh imam Bukhari dengan shighat jazm, maka hadits tersebut adalah sahih, dan jika imam Bukjari menyebutnya dengan shighat tamridh, maka hadits itu ada cacatnya.

Kita lihat komentar al-Hafidz Ibnu Hajar :

ونظر البخاري أدق من أن يعترض عليه بمثل هذا فإنه حيث ذكر الارتحال فقط جزم به لأنّ الإسناد حسن وقد اعتضد، وحيث ذكر طرفًا من المتن لم يجزم به لأن لفظ الصوت مما يتوقف في إطلاق نسبته إلى الرب ويحتاج إلى تأويل، فلا يكفي فيه مجيء الحديث من طريق مختلف- فيها ولو اعتضدت "

“ Pandangan al-Bukhari lebih lembut daripada menolaknya dengan semacam ini, karena ketika beliau menyebutkan hadits yang ada lafadz irtihal saja (tanpa ada lafadz shout/suara) beliau menyebutnya dengan shighat jazm, karena sanadnya hasan dan kuat. Dan ketika beliau menyebutkan sisi dari matannya, maka beliau tidak menyebutnya dengan shighat jazm, karena lafadz shout (suara) termasuk perkara yang tawaqquf di dalam menisbatkannya kepada Allah Ta’ala dan membutuhkan pada takwil. Maka tidak cukup datangnya hadits tersebut dari jalan yang mukhtalaf (diperselisihkan) walaupun menjadi kuat “.(Fath al-Bari : 1/174-175)

Artinya tidak cukup hal itu dalam masalah akidah walaupun imam Bukhari menyebutkan awalnya di kitab al-Ilm dan menyebutkannya dengan shighat jazm sebab tidak ada lafadz shout (suara), di situ beliau hanya menyebutkan  lafadz rahala (berangkat) nya Jabir bin Abdillah kepada Abdullah bin Unais dari Madinah ke Mesir.

Kebodohan kedua :

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال النبي (صلّى الله عليه وسلّم): "يقول الله يوم القيامة: ياءادم، فيقول: لبيّك وسعديك، فينادى بصوت: إن الله يأمرك أن تخرج من ذريتك بعثًا إلى النار

“ Dari Abi Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata : Nabi Saw bersabda : “ Allah berfirman di hari kiamat : “Wahai Adam “, maka Adam menjawab : “ Labbaik wa sa’daik “ Maka diserukan (menyerukan) dengan suara : “ Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk kamu keluarkan dari keturunanmu pasukan ke neraka “.

Tanggapan :

Lafadz ini diriwayatkan oleh para perowi imam Bukhari dengan dua wajh : Pertama sebagian mereka meriwayatkan dengan huruf dl yang dikasrah (fa yunaadi : menyeru), sebagian lainnya meriwayatkannya dengan huruf dal yang fathah (fa yunaada: diseru).

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkomentar :

ووقع فينادي مضبوطًا للأكثر بكسر الدال، وفي رواية أبي ذر بفتحها على البناء للمجهول، ولا محذور في رواية الجمهور، فإن قرينة قوله: إن الله يأمرك، تدل ظاهرًا على أن المنادي ملك يأمره الله بأن ينادي بذلك

“ Terjadi lafadz -Fa yunaadi- kebanyakannya dengan dal yang dikasrah, dalam riwayat Abi Dzar lafadz dalnya difathah, maka tidak ada masalah dalam periwayatan jumhur, karena qarinah (indikasi) sabda Nabi : “ Sesungguhnya Allah memerintahkanmu “, menunjukkan secara jelas bahwa yang menyeru adalah malaikat yang Allah perintahkannya untuk menyerukan firman Allah “.  (Fath al-Bari : 13/460)

Maka yang berseru dengan suara di situ bukanlah Allah melainkan malaikat-Nya dengan qarinah kuat dan jelas yaitu kalimat “ Sesungguhnya Allah memerintahkanmu “.

Contoh logikanya :

Presiden berkata di persidangan : “ Wahai rakyatku “, lalu rakyat menjawab “ Ya pak “. Maka berseru (diserukan) dengan satu suara : “ Sesungguhnya pak presiden memerintahkan kalian untuk begini “.

Sekarang coba renungkan dengan akal yang sehat wahai wahabi-salafi, kira-kira kalimat :  “ Sesungguhnya pak presiden memerintahkan kalian untuk begini “, yang berbicara itu pak presiden atau juru bicaranya (orang lain)??
Di sini imam Bukhari meriwayatkan hadits tsb secara maushul dan musnad, bukan untuk menetapkan suara sebagai sifat Allah, maka ini bukanlah hujjah untuk menetapkan suara sebagai sifat Allah.

Hal ini sesuai dengan hadits sahih berikut ini :

حدثنا ‏ ‏أحمد بن أبي سريج الرازي ‏ ‏وعلي بن الحسين ابن إبراهيم ‏ ‏وعلي بن مسلم ‏ ‏قالوا حدثنا ‏ ‏أبو معاوية ‏ ‏حدثنا ‏ ‏الأعمش ‏ ‏عن ‏ ‏مسلم ‏ ‏عن ‏ ‏مسروق ‏ ‏عن ‏ ‏عبد الله ‏ ‏قال ‏
‏قال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم: إذا تكلم الله بالوحي سمع أهل السماء للسماء صلصلة كجر السلسلة على الصفا

“ Jika Allah berbicara dengan wahyu, maka penduduk langit mendengar langit, suara loncengan seperti suara tarikan batu besar halus yang berderet “(Sunan Abu Dawud, kitab as-Sunnah bab al-Quran)

Dalam hadits ini dijelaskan suara langit bukan suara Allah. Maka hadits ini menafsirkan hadits imam Bukhari di atas yang menyebutkan lafadz suara.

Imam Al-Qurthubi mengatakan :

فصل: قوله في الحديث: "فيناديهم بصوت": استدل به من قال بالحرف والصوت وأن الله يتكلم بذلك، تعالى عما يقول المجسمون والجاحدون علوًا كبيرًا، إنما يُحمل النداء المضاف إلى الله تعالى على نداء بعض الملائكة المقربين بإذن الله تعالى وأمره

“ Fasal. Hadits “ Maka diserukan dengan suara “, dijadikan hujjah oleh orang yang berkata Allah berbicara dengan huruf dan suara, sungguh Maha Suci Allah sesuci-sucinya dari apa yang diucapankan kaum mujassimah dan pengingkar, sesungguhnya nida (seruan) yang dinisbatkan kepada Allah diartikan seruan sebagian malaikat muqarrabin Allah dengan idzin dan perintah-Nya “. (at-Tadzkirah fi Ahwal al-Mauta wa Umur al-Akhirah : 338)

Komentar imam Qurthubi ini memang benar dan terbukti benar. Berikut hadits-hadits sahih yang menjelaskan seruan-seruan malaikat Allah yang berseru atas perintah Allah :

1. Nabi Saw bersabda :

فلما جاوزت ناداني منادٍ: أمضيت فريضتي وخففت عن عبادي

“ Ketika aku melewati, berserulah seorang penyeru (munaadin) : “ Aku berlakukan kewajibanku dan Aku ringankan atas hambaku “. (HR. Bukhari, Manaqib al-Anshar bab al-Mi’raj : 3035)
Hadits ini juga disebutkan oleh imam Bukhari dalam bab Dzikrul Malaikah (penyebutan malaikat) dalam sahihnya dengan lafadz Nuudia (diserukan).

2. Nabi Saw bersabda :

إن الله عز وجل يمهل حتى يمضي شطر الليل الأول ثم يأمر مناديًا. يقول: هل من داع يستجاب له، هل من مستغفر يغفرله، هل من سائل يعطى

“ Sesungguhnya Allah Ta’aala membiarkan hingga berlalu separuh malam kemudian memerintahkan penyeru untuk berkata : “ Apakah ada orang yang mau berdoa, maka akan dikabulkan, adakah orang yang meminta ampunan, maka akan diampuni, adakah orang yang meminta, maka akan diberikan “. (HR. An-Nasai, disahihkan oleh Abu Muhammad Abdul Haq)

3. Nabi Saw bersabda :

إذا تكلم الله بالوحي سمع أهل السموات شيئا، فإذا فُزّع عن قلوبهم وسكن الصوت عرفوا أنه الحقّ، ونادوا ماذا قال ربكم؟ قالوا: الحق

“ Jika Allah berbicara dengan wahyu, maka penduduk langit mendengar sesuatu, maka jika hati mereka takut dan suara menjadi tenang, mereka mengetahui bahwa itu adalah kebenran. Dan mereka berseru : “ Apa yang Tuhan kalian katakana ? “, Mereka menjawab : “ Kebenaran “. (HR. Bukhari)

Hadits-hadits ini menjadi tafsir dari hadits yang menyebutkan lafadz suara tersebut, sehingga yang dimaksud berseru dengan suara adalah seruan malaikat atas idzin dan perintah Allah.

Bagian kedua saya akan mengungkap ucapan Ibnu Taimiyyah al-harrani yang kontradiktif, dimana ia mengatakan dalam satu kitab bahwa suara dan huruf itu baru dan makhluk namun di sisi lainnya ia mengtakan suara dan huruf bersifat qadim. Membuktikan ajaranya bukan bersumber dari ajaran ulama salaf Hanabilah dan lainnya.
Bersambung........

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FADLILAH MEMBACA DALAIL KHOIROT AL JAZULI

ISTIQOMAH DAN TA'ALUQ PADA GURU