Menjelang Wafatnya Rasulullah saw (1)
Setelah da’wah telah sempurna dan Islam telah meluas serta generasi penerus telah siap melanjutkan da’wah guna meninggikan kalimah Allah di muka bumi ini, mulailah terdapat tanda-tanda bahwa utusan Allah akhir zaman yang diutus untuk menyampaikan risalah kepada umat ini terlihat tandanya akan di panggil oleh Allah untuk selamanya.
Pada bulan Ramadhan tahun 10 Hijriyah beliau i’tikaf selama 20 hari, padahal biasanya 10 hari terakhir saja. Begitu pula malaikat jibril pada bulan Ramadhan itu tadarus al-Qur’an bersama beliau hingga dua kali. Pada waktu beliau haji wada’ beliau juga bersabda:
”Aku tidak tau pasti, boleh jadi aku tidak akan bisa bertemu kalian lagi setelah tahun ini dengan keadaan seperti ini”. Pada waktu melempar jumroh Aqobah beliau bersabda: “Pelajarilah manasik kalian dariku, karena boleh jadi aku tidak berhaji lagi sesudah tahun ini”. Di pertengahan hari-hari tasyriq turun surat al-Nashr dan ini bisa dikenali sebagai suatu tanda perpisahan yang diisyaratkan beliau.
Pada awal-awal bulan shafar tahun 11 hijriyah, Nabi SAW pergi ke jabal Uhud, lalu shalat atas orang-orang mati syahid di sana, layaknya orang yang hendak berpisah dengan orang yang hidup dan yang sudah meninggal. Lalu beliau menuju mimbar dan berpidato:
“Bahwa aku lebih dulu meninggalkan kalian, aku menjadi saksi atas kalian dan demi Allah aku benar-benar akan melihat tempat kembaliku saat ini. Aku telah diberi kunci-kunci dunia dan demi Allah, aku tidak takut kalian musyrik sepeninggalku, tetapi aku takut kalian akan saling bersaing di dalam masalah itu”. (Shahih bukhari II/585: Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahin bin Mughirah bin Badazibah al-Bukhary al-Ja’fy))
Pada suatu malam pertengahan bulan shafar tahun 11 hijriyah beliau pergi ke kuburan Baqi’ al Gharqad, lalu beliau berdo’a memintakan ampunan orang-orang yang meninggal dikuburan Baqi’ tersebut. Beliau mengucapkan:
“Salam bahagia atas kalian wahai para ahli kubur, apa yang kalian hadapi disana menjadi ringan, seperti apa yang dihadapi manusia yang hidup. Fitnah seperti datangnya malam yang gelap gulita, datang silih berganti, yang akhir akan menyusul yang awal. Hari akhirat lebih dasyat pembalasannya dari pada di dunia”, lalu beliau mengkabarkan kepada orang-orang yang dikubur di kuburan baqi’ tersebut dengan sabdanya: “Bahwa kami akan menyusul kalian”. (al-Rahiq al-Makhtum al-Mubarak Fury hal.465).
Permulaan sakit
Pada tanggal. 29 bulan shafar tahun 11 Hijriyah bertepatan dengan hari senin, Nabi saw, menghadhiri pemakaman jenazah di kuburan Baqi', sepulangnya dari Baqi’ dan masih dalam perjalanan, tiba-tiba merakasan pusing dan suhu panas badan beliau meningkat, sehingga orang-orang tahu suhu panas tubuh beliau meningkat terlihat lewat urat nadi beliau yang ada di wajah beliau. Beliau sakit selama 13 atau 14 hari dan beliau tetap shalat bersama para sahabat selama 11 hari dari masa sakitnya". (al-Rahiq al-Makhturn: Shafiyurrahman al-Mubarak Furiy hal.465)
Satu minggu terakhir
Sakitnya Nabi saw, semakin lama semakin parah, sampai-sampai beliau bertanya kepada para istri beliau: "Dimana giliranku besok? Dimana giliranku besok ?" Mereka paham apa yang beliau maksudkan. Lalu mereka memberi kebebasan kepada beliau untuk memilih. Akhirnya beliau memutuskan untuk pindah ke rumah Aisah. Beliau berjalan di papah oleh al-Fadhl bin Abbas dan Ali Ibn Abu Thalib hingga tiba di rumah Aisah. Beliau berada di rumah Aisah pada pekan terahir kehidupan beliau. Sementara Aisah terus-menerus membacakan Mu'awwidzat dan do'a-do'a yang di hapalnya dari Nabi saw, sambil meniup ke tubuh beliau dan mengusap-usap tangan beliau, mengharap berkah darinya". (al-Rahiq al-Makhtum : Shaftyurrahman al-Mubarak Furiy hal.465)
5 hari sebelum wafatnya Rasulullah saw
Pada hari rabu, tepanya lima hari sebelun Nabi saw, wafat, suhu badan beliau semakin tinggi, sehingga beliau semakin demam dan menggigil. Beliau bersabda: "Guyurkan air tujuh kali guyuran ke tubuhku, dari sumur mana saja, agar aku bisa menemui orangorang dan memberi nasehat kepeda mereka". Kemudian mereka. mendudukkan beliau di atas bejana lalu mengguyurkan air ke tubuh beliau, hingga beliau bersabda: "cukup-cukup". Setelah merasa agak ringan, beliau masuk masjid dengan kepala yang diikat, hingga duduk di atas mimbar, lalu berpidato di hadapan orang-orang yang duduk di hadapan beliau: "Kutukan Allah terhadap orang-orang Yahudi dan Nashrani, sebab mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah" dan dalam riwayat lain disebutkan "Allah memerangi orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah". (Shahih al-Bukhari I/62 dan Muwatha: Imam Malik hal.360). Lalu beliau melanjutkan "Jangan kalian jadikan kuburanku sebagai berhala yang di sembah". (Muwatha: Imam Malik hal.65)
Kemudian beliau menawarkan qishash terhadap diri beliau, seraya bersabda: "Siapa saja punggungnya pernah saya pukul, inilah punggungku, silahkan membalasnya, siapa yang merasa kehormatanya pernah saya lecehkan, maka inilah kehor matanku, silahkan membalasnya" kemudian beliau turun dari mimbar dan melakukan salat dhuhur. Setelah shalat beliau kembali naik mimbar dan duduk di atas mimbar tersebut. Beliau mengulang lagi sabdanya seperti di atas dan juga menyampaikan yang lainnya.
Pada saat itu ada salah seorang yang berkata: Engkau mempunyai tanggungan tiga dirham kepadaku". Lalu beliau bersabda: "Bayarlah kepadanya wahai Fadhl" kemudian beliau menyampaikan nasehat berkaitan dengan orang-orang Anshar: "Aku wasiyatkan kepada kalian tentang orang-orang Anshar, mereka adalah familiku dan aibku. Mereka telah melaksanakan kewajiban dan apa yang tersisa adalah milik mereka. Terimalah orang yang baik diantara mereka dan ma'afkanlah orang-orang yang bersalah diantara mereka". Dalam salah satu riwayat disebutkan beliau bersabda: "Bahwa manusia akan semakin bertambah banyak, sedangkan orang-orang Anshar semakin sedikit, hingga ahirnya mereka seperti garam dalam makanan. Barangsiapa di antara kalian yang menangani suatu urusan yang membahayakan dan bermanfaat bagi seseorang, maka hendaklah dia mau menerima orang yang baik di antara mereka dan mema'afkan yang bersalah di antara mereka". (Shahih al-Bukhari 1/536 dan Muwatha' Malik hal.546)
Beliau melanjutkan: “Bahwa ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara di beri kemewahan dunia menurut kehendak-Nya atau apa yang ada di sisi-Nya, ternyata hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya" Abu Sa'id menuturkan: Lalu Abu Bakar menangis, sembil berkata: Maka demi ayah dan ibuku, saya sebagai tebusannya". Karena kami merasa heran atas ulah Abu Bakar, maka orang berkata: "Lihatlah syaikh ini. Rasulullah saw, mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut kehendaknya atau apa yang ada di sisi-Nya, lalu ia berkata: Demi ayah dan ibu, kami sebagai tebusannya". Yang dimaksud hamba adalah Nabi saw, sendiri, sementara orang-orang yang paling mengetahui diantara kami adalah Abu Bakar" (Muttafaq alaih. Misykah al-Masabih 11/546)
Kemudian beliau melanjutkan sabdanya: "Bahwa orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dalam pergaulan dan hartanya adalah Abu Bakar, andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih selain Allah, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku, namun ini adalah ukhuwah islamiyah dan kasih sayang. Semua pintu yang menuju ke masjid al-Haram di tutup kecuali pintunya Abu Bakar". (Muttfaq alaih: Shahih al-Bukhari 1/22, 429 dan 11/638. Misykah al-Mashabih 11/548)
Wallahu a’lam.
Komentar