Menjelang Wafatnya Rasulullah saw (2)




               Pada hari kamis yaitu empat hari sebelum wafatnya Nabi saw, sakit beliau tidak berkurang. Pada hari itu beliau menyampaikan tiga wasiyat. Pertama. Wasiyat   untuk   mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nashrani beserta orang­-orang musyrik dari jazirah Arab. Kedua. Wasiyat tentang pengiriman para utusan seperti yang pernah beliau lakukan. sedangkan yang ke tiga, rawi hadits ini lupa wasiyat yang disampaikan Nabi saw.
Boleh jadi yang ketiga adalah wasiyat untuk berpegang teguh pada al-Qur'an dan sunnah, atau perintah untuk melanjutkan pasukan yang dipimpin Usamah, atau wasiyat untuk memperhati­kan shalat dan hamba-hamba sahaya yang di miliki. Sekalipun Nabi saw, sakit cukup parah, namun beliau tetap mengimami shalat lima waktu bersama orang-orang hingga hari kamis yaitu empat hari sebelum beliau wafat.
2 hari sebelum wafatnya Nabi saw.
Pada hari sabtu, Nabi saw merasa-

kan badanya agak ringan. Maka dengan di papah dua orang laki-laki (Fadhl bin Abbas clan Ali Ibn Abu Thalib) beliau keluar rumah untuk melakukan shalat dhuhur. sementara pada saat yang sama. Abu Bakar sedang mengimami shalat orang-orang. Pada waktu Abu Bakar melihat kedatangan beliau, Abu Bakar beranjak untuk mundur ke belakang. Namun beliau memberikan isyarah kepada Abu Bakar agar tidak mundur. Beliau bersabda: "Dudukkan aku di samping Abu Bakar" Maka keduanya (Fadhl bin Abbas dan Ali Ibn Abu Thalib) mendudukkan beliau di samping kiri Abu Bakar, Ialu Abu Bakar shalat mengikuti shalat beliau dan mengeraskan bacaan takbir agar di dengar oleh para jama'ah. (Shahih al-Bukhari 1/99)
1 hari menjelang wafatnya Nabi saw.
Satu  hari  sebelum  wafatnya Nabi saw, atau pada hari Ahad Nabi saw, memerdekakan para hambasahayanya yang laki-laki, menshadaqahkan 7 dinar harta beliau yang masih tersisa dan memberikan senjata milik beliau kepada orang-orang muslim. Pada malam sebelumnya Aisah meminjam minyak lampu dari hambasahanya yang perempuan, sementara baju besi beliau di gadaikan kepada seorang Yahudi seharga 30 sha' gandum". (al­Rahiq al-Makhtum: Shafiyurrahman al-Mubarak Furi hal. 467-468)
Hari terahir kehidupan rasulullah saw.
Anas Ibnu Malik ra, meriwayatkan, bahwa orang-orang Muslim sedang melaksanakan shalat subuh pada pagi hari senin, sementara Abu Bakar menjadi imam shalat. Rasululah saw, tidak nampak ke Masjid, beliau hanya menyibak tabir kamar Aisah dan memandangi mereka yang sedang berbaris dalam saf-saf shalat. Kemudian beliau tersenyum. Abu Bakar mundur ke belakang hendak berdiri sejajar dengan saf, karena Abu Bakar mengira Nabi saw, akan keluar untuk shalat dan menjadi imam. Anas menuturkan: 'Orang-orang bermaksud hendak berhenti shalat, karena merasa gembira terhadap kedatangan Nabi SAW, namun beliau memberi isyarat dengan tangan agar mereka meneruskan shalat. Kemudian beliau masuk kamar dan menutup gordin. Setelah -itu Nabi saw, tidak mendapatkan waktu shalat berikutnya. Pada waktu dhuha Nabi saw, memanggil putrinya yaitu Fatimah, lalau beliau membisikkan sesuatu kepadanya hingga Fatimah menangis. Lalu beliau mendo'akan Fatimah. Setelah itu beliau membisikkan sesuatu kepada-nya, kemudian Fatimah tersenyum. (Shahih al-Bukhari 11/638)
Di kemudian hari saya (Anas) menanyakan kejadian itu kepada Fatimah, beliau menjawab: "Nabi saw, membisikkan kepadaku bahwa beliau akan wafat, lalu akupun menangis. Lalu beliau membisikkan kepadaku lagi, berisi kabar gembira bahwa akulah anggota keluarga beliau yang pertama kali akan menyusul beliau, maka akupun tersenyum". Nabi saw, juga mengabarkan kepada Fatimah bahwa Fatimah adalah pemimpin para wanita semesta alam. (Rahmatan lil alamin 11/282)
Fatimah melihat penderitaan yang amat berat pada diri rasululah saw, maka Fatimah berkata: Alangkah menderitanya engkau wahai ayah".  Beliau pun menjawab "Tidak ada penderitaan bagi ayahmu setelah hari ini". (Shahih al-Bukhari 11/641). Kemudian beliau memanggil kedua cucu beliau yaitu Hasan dan Husein lalu memeluk keduanya dan memberikan nasehat yang baik-baik. beliau juga memanggil para istri beliau, dan memberi nasehat kepada mereka. Sakit beliau semakin berat ditambah pengaruh racun yang di susupkan di dalam daging oleh wanita Yahudi yang beliau makan sewaktu di Khaibar, hingga beliau bersabda: "Wahai Aisah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang sempat saya cicipi di Khaibar, ini lah saatnya saya merasakan bagaimana rasanya terputusnya nadiku karena pengaruh racun tersebut" (Shahih al­Bukhari 11/637)
Beliau juga memberikan nasehat kepada orang-orang: Shalat, shalat, dan budak-budak yang kalian miliki" Beliau menyampaikan wasiyat ini hingga beberapa kali, maksudnya perintah memerhatikan dua hal itu" (Shahih al-Bukhari 11/637)
Detik-detik terahir kehidupan rasulullah saw.
Tibalah saatnya detik-detik terahir dari kehidupan Nabi saw. Aisah istri tercinta beliau menarik tubuh beliau ke pangkuannya. Berkaitan dengan hal ini Aisah pernah berkata: "Diantara nikmat Allah yang luar biasa yang dilimpahkan kepadaku adalah Nabi saw, meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, berada dalam pelukan dadaku, bahwa Allah menya-tukan antara ludahku dan ludah beliau pada waktu beliau wafat ".
Abdurrahman ibn Abu Bakar masuk ke dalam rumah sambil memegangi siwak. Pada saat itu aku merangkul tubuh beliau, saya lihat beliau melirik pada siwak yang dibawa di tangan Abdurrahman, karena aku tahu beliau sangat suka pada siwak, maka aku bertanya: "Apakah aku boleh mengambil siwak itu untuk anda?”. Beliau mengiyakan dengan isyarat kepala, maka aku menyerahkan siwak itu kepada beliau dan menggosokkannya ke mulut beliau, rupanya gosokanku terlalu keras bagi beliau. Aku bertanya "Apakah aku harus menggosoknya dengan pelan?” Beliau mengiyakan dengan isyarat kepala, maka aku menggo­sokkan dengan pelan-pelan. Di dekat tangan beliau pada waktu itu ada bejana berisi air, beliau mencelupkan kedua tangan ke dalam air lalu mengusapkan ke wajah beliau, sambil bersabda: "Tidak ada tuhan selain Allah, sesungguhnya kematian itu ada sekaratul mautnya" (Shahih al-Bukhari bab Maradh Nabi saw 11/640)
Setelah siwakan beliau mengangkat tangan atau jari-jari, menga­rahkan pandangan ke arah langit-langit rumah dan kedua bibir beliau bergerak-gerak. Aisah masih sempat mendengar sabda beliau pada saat itu. "Bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka dari pada nabi, siddiqin, syuhada' dan shalihin. Ya Allah, ampunilah dosaku dan rahmatilah aku, pertemukan aku dengan kekasih yang Maha Tinggi Ya Allah, kekasih yang Maha Tinggi". (Shahih al­Bukhari Bab maradh Nabi saw, 11/640 dan pada Bab lain yaitu bab ahiru maa takallama an-Nabiy saw, 11/638, 639, 640 dan 641).
Kalimat yang terahir ini di ulang ulang hingga tiga kali yang di susul dengan tangan beliau yang melemah. (Inna lillaah wainna ilaihi raaji'un) beliau telah pulang kepada kekasih yang Maha Tinggi, Allah Azza waj al Ia.
Pada hari senin pagi (waktu Dhuha) tanggal 12 Rabi' al-Awwal tahun 11 Hijriyah, pada usia 63 tahun lebih 4 hari beliau meninggalkan dunia yang fana ini, menghadap kepada kakasih Yang Maha Tinggi, Allah yang tiada Tuhan selain Dia. Beliau tidak meninggalkan hara, emas dan perak, unta dan kuda, namun beliau meningalkan dua pusaka yang bila ummatnya mau berpegang teguh dengan dua puasaka tersebut tidak akan tersesat yaitu al-Qur'an dan Sunnah.

Wallahu a’lam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FADLILAH MEMBACA DALAIL KHOIROT AL JAZULI

ISTIQOMAH DAN TA'ALUQ PADA GURU