Para Ulama pun Bertawasul
Terdapat perkataan sebagian kalangan yang mengatakan bahwa tawasul dalam berdoa tidak boleh secara mutlaq dan tidak seorang ulama salaf pun yang bertawasul dalam berdoa begitu pula ulama madzhab empat. Benarkah demikian?
Para ulama baik salaf ataupun kholaf mereka adalah mengikuti syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, secara benar dan tidak mungkin melakukan hal-hal yang menyebabkan kemusyrikan. Mereka juga melakukan tawasul dalam berdoa kepada Allah SWT. Kalau tawasul dalam berdoa itu musyrik, tentu mereka tidak akan melakukan. Mereka adalah generasi perantara pembawa agama ini yang sampai kepada kita sekarang. Kita mengerti agama mengerti alif, ba, ta, al-Qur’an, Hadits dan seterusnya adalah dari mereka. Mereka bertawasul karena al-Qur’an dan hadits menganjurkannya. Tawasul juga dilakukan para Nabi terdahulu. Nabi Muhammad SAW bertawasul dan mengajarkan tawasul, begitu pula para sahabat, para
ulama salaf dan kholaf yang mewarisi ilmu ulama sebelumnya. Adapun kalangan yang mengharamkan tawasul dalam berdoa secara mutlaq adalah menyalahi al qur’an, sunah serta ijma’.
Untuk membuktikan benar tidaknya tuduhan bahwa para ulama salaf mengharamkan tawasul secara mutlaq, perlu dalil yang jelas. Setelah diteliti ternyata para ulama salaf dan kholaf mengikuti al- Qur’an dan sunnah yang membolehkan tawasul dalam berdoa. Berikut ini sebuah dalil dan fakta yang seputar masalah tersebut, Di antranya:
Umar Ibnu al-Khattab ra. Beliau bertawasul dalam berdoa seperti yang disebutkan adalah hadits Anas Ibn Malik ra.
“Adalah Umar bin Khattab ra, bila terjadi kemarau panjang beliau bertawasul dengan Abbas bin Abdul Muthalib, kemudian berkata : Ya, Allah kami pernah berdoa bertawasul Kepadamu dengan Nabi Muhammad SAW, maka engkau turunkan hujan, sekarang kami bertawasul dengan paman nabi Muhammmad SAW maka turunkanlah hujan” Anas berkata “maka turunlah hujan kepada kami”. (H.R. al-Bukhori 1/128. Al –Baihaqi dalam sunan al-Kubra II/352)
Abdullah bin Umar ra. Beliau adalah putra Umar Ibnu al-Khattab ra, pada waktu kaki beliau mati rasa, beliau tawasul kepada nabi Muhammad SAW, seperti disebutkan dalam hadits.
Diriwayatkan dari Ibn Umar ra, suatu ketika kaki beliau sakit dan mati rasa, maka salah seorang mengatakan kepadanya:
“Sebutkanlah orang yang paling anda cintai” lalu Ibnu Umar berkata dalam doanya:” Ya Muhammad” maka seketika itu beliau sembuh” (H.R. al-Bukhori dalam al-adab al-Mufrad hal 324 hadist no.964 al –Hafidz Ibrahim al Harbi dalam Gharib al Haidst II/673/674. Ibn al Sunni dalam Amal al Yaum wa Lailah hal.72-73. Ibn Taimiyah dalam al Kalam al Thayyib hal.88)
Bilal bin al Harist al Muzani. Pada masa khalifah Umar bin Khattab ra. mengalami paceklik, beliau mendatangi makam Nabi SAW, dan berdoa dengan tawasul.
Diriwayatkan dari Malik al Dari seorang mentri ekonomi khalifah Umar bin Khattab ra. ia berkata: Bahwa muslim paceklik melanda kaum muslimin pada masa khalifah Umar, maka salah seorang sahabat (Bilal bin al Harist al muzani) datang ke makam Rosululloh SAW, dan mengatakan dalam do’anya: “Wahai Nab SAW, mohonkanlah hujan kepada Alloh untuk ummatmu sesungguhnya mereka diambang kehancura. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Nabi SAW, dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikanlah salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya: “Agar bersungguh-sungguh melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Khalifah Umar bin Khattab ra. dan memberitahukan kepadanya apa yang dilakukan dan mimpi yang di alaminya. Lalu Umar ra. menangis dan mengatakan: “Ya Alloh saya akan kerahkan semua kekuatanku kecuali yang aku tidak mampu”. (H.R. Ibn Abi Syaibah dalam al Mushannaf XII/31-32. Ibn Abi Khaitsamah dalam al Ishabat fi Tamyizi al Shahihah III/484. Al Baihaqi dalam Dalail An Nubuwwah VII/47. Al Khalili dalam al Irsyad I/313/314. Al Hafidz Ibn Abdi al Bar dalam al Isti’ab II/464. Sanad haidst ini di nilai shahih oleh al Hafidz Ibnu Katsir dalam Bidayah wa al Nihayah VII/101 dan al Hafidz ibn Hajar dalam Fath al Bariy II/495. Al Hafidz ib Katsir juga mengatakan dalam kitabnya yang lain Jami’ al Masanid di bagian Musnad Umar bin Khattab I/223 bahwa sanad haidt ini bagus (jayyid) dan kuat (qawiy) menurut al Hafidz ibn Hajar yang di maksud laki-laki yang datang ke makam Nabi SAW dan melakukan tawasul dalam hadist terseburt adalah Bilal bin al Harist al Muzani ra.)
Al Hafidz Ibnu Khuzaimah (223-311H/838-924M) diberi julukan imam al Aimmah (imamnya para ulama). Beliau pengarang shahih Ibnu Khuzaimah. Beliau juga berdo’a degan tawasul.
Abu Bakar Ibn al Muammal berkata: “Kami berangkat bersama pemuka ahli hadist, al Imam Abu Bakar bin Khuzaimah dan rekannya al Hafidz Abu Ali al Tsaqafi bersama rombongan beberapa guru kami yang cukup banyak, untuk berziarah ke makam Ali al Ridha bin Musa al Kadhim di Thus. Abu Bakar al Muammal berkata: “Aku melihat keta’dhiman Ibn Khuzaimah terhadap makam itu serta tawadhu’ terhadapnya dan do’a beliau yang begitu khusyu’ disamping kubur itu, sampai menbuat kami bingung”. Diriwayatkan oleh al Hafidz ibn Hajar al Asqalni dalam Tahdzib al Tahdzib VII/339.
Al hafidz Abu Ali al Naisaburi. Abu Ali al Husain bin Ali ibn Yazid al Naisaburi {277-349H/900-961M} ulama’ ahli hadist, beliau termasuk guru Imam al Hakim pengarang kitab al Mustadrak, beliau berpendapat boleh tawasul dan istighatsah dengan orang yang telah meniggal dunia, seperti dinyatakan dalam riwayat berikut ini.
Al Imam al Hakim berkata: Aku mendengar al Hafidz Abu Ali al Naisaburi berkata: “Pada suatu ketika aku dalam kesulitan yang sangat. Kemudian aku bermimpi bertemu Nabi SAW, beliau bersabda kepadaku: “Pergilah kemakam Yahya bin Yahya {142-226H/759-840M} bacalah istighfar dan berdo’alah kepada Alloh, nanti hajatmu akan dikabulkan Alloh”. Pada pagi harinya aku lakukan itu, lalu tidak lama hajatku dikabulkan oleh Alloh”. (Diriwayatkan al Dzahabi dalam Tarikh al Islam hal.1756. Ibn Hajar al Asqalaniydalam Tahdzib al Tahdzib XI/261.)
Al-Hafihz al-Thabarani – Abu Syaikh dan Abu Bakar Ibn al-Muqri. Tiga orang huffahz dan ahli hadits yaitu al-Hafidz Abui Qasim Aal-Thabarani (260-360H/874-971M) peulis al-Mu’jam al-Kabir, Mu’jam al-Ausath, Mu’jam al-Shaghir dan lainya. Al-Hafihz Abu al-Syaikh al-Ashbahani (274-369H/897-979M) penulis kitab al-Tsawab. Al-Hafidz Abu Bakar bin al-Muqri’ al-Ashbahani (273-381H/896-991M) mereka tawasul dan istighotsah pada Nabi SAW, seperti kisah berikut ini.
Berkata Abu Bakar Ibn al-Muqri’: Saya berada di Madinah bersama al-Hafihz al-Thabarani dan al-Hafihz Abu al-Syaikh. Kami dalam kondisi kesulitan dan sangat lapar, terpaksa puasa wishal pada hari itu. Namun setelah waktu isya’ tiba, saya menziarahi kuburan Nabi SAW, lalu saya berkata: “Wahai Nabi SAW, kami lapar, kami lapar.” Dan saya segera pergi dari kuburan tersebut. Lalu Abu Qasim berkata pada saya: “Duduklah kita tunggu datangnya riski dari Alloh, atau kematian.”Abu Bakar berkata: lalu saya dan al-Syaikh tidur, sedangkan al-Thabarani duduk sambil melihat sesuatu. Tiba-tiba datang al-Alawiy (keturunan Nabi SAW) dan mengetuk pintu. Kami membuka pintu tersebut, ternyata ia bersama dua anak yang masing-masing membawa keranjang penuh dengan makanan. Lalu al-Alawiy (laki-laki yang datang tadi) berkata: “Hai kaum, apakah kalian mengadu kepada Nabi SAW? Aku mimpi bertemu Nabi SAW, menyuruhku membawakan makanan untuk kalian”. Kisah ini diceritakan al-Hafihz Ibn al-Jauzi (508-597H/1114-1201M) dalam al-Wafa bi ahwal al-Mushthafa hal.818. al-Hafihz al-Dzahabi dalam Tadzkirah al-Huffazh III/973, Tarikh al-Islam hal.2808. Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani dalam Hujjatullah ‘ala al-Alamin hal.805. Wallahu a’lam.
Komentar