Pelajaran di bulan Rajab
”Sesungguhnya zaman
berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan
bumi. Dalam setahun terdapat dua belas bulan yang di antaranya terdapat empat
bulan yang dihormati, tiga bulan diantaranya berturut-turut Dzulqaidah,
Dzulhijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumadil
Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim)
Beraneka kejadian dan
peristiwa terus berlalu silih berganti. Berbagai kondisi kita lalui dari tahun
ke tahun. Tanpa terasa, beberapa hari lagi, kita akan melewati bulan Rajab di
tahun ini.
Ada
kebahagiaan yang kita rayakan, dan ada kesedihan yang kita rasakan, namun kita
harus tetap hidup tanpa penyesalan. Kita mesti senantiasa optimis, meski
berbagai rintangan senantiasa menghimpit dan mengguncang keimanan.
|
menjalankan misi
dakwah pasti digantikan dengan anugerah yang menjadikan hidup kita lebih
berkualitas.
Terlebih
bahwa setiap anugerah juga sebenarnya selalu mengandung ujian bagi kita untuk
semakin mengintensifkan segala potensi kita demi mengupayakan keridhoan Allah
SWT. Sejarah
seputar peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan palajaran berharga, bagaimana
kesusahan dan kesedihan tergantikan dengan sebuah pesan (berupa sholat lima
waktu) sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pesan Isra’ Mi’raj ini
mengindikasikan bahwa sebelum menerima sebuah tugas yang lebih berat, tentu
terlebih dahulu kita akan diuji. Jika sukses melewati ujian yang diberikan
Allah, tentu kita akan menerima anugerah sebagai karunia dan kemahamurahan
Allah SWT. Maka jika ingin meningkatkan derajat ketaqwaan, mestinya kita
mempersiapkan diri menghadapi berbagai ujian.
Jibril
Mengajarkan Waktu Sholat
Sejak masa-masa pertama ketika
Nabi diangkat sebagai Rasul kepada kaumnya, Malaikat Jibril adalah perantara
wahyu sekaligus teman Nabi SAW yang sangat setia. Banyak hadits dan sunnah
meriwayatkan bahwa malaikat Jibril seringkali menjelma menjadi manusia untuk
sekedar mengajarkan kepada Muhammad SAW dan para pengikutnya untuk melakukan
sesuatu semisal tata cara beribadah.
Suatu ketika Jabir bin
Abdullah RA menceritakan bahwa pada suatu siang sebelum matahari benar-benar di
atas titik atas tertinggi, Rasulullah Muhammad SAW kembali didatangi oleh
malaikat Jibril AS seraya berkata kepadanya, ”Bangunlah Wahai Rasulullah
dan lakukan shalat.”
Mendengar panggilan ini, Maka Nabi
Muhammad pun segera melakukan shalat Dzuhur ketika matahari telah mulai
tergelincir.
Ketika bayang-bayang tampak telah mulai
lebih panjang dari sosok asli benda-benda, malaikat Jibril berkata, ”Bangun
dan lakukan shalat lagi.”
Demi mendengar perintah ini pun,
Rasulullah SAW kemudian segera melakukan shalat Ashar ketika panjang bayangan
segala benda melebihi panjang benda-benda. Kemudian waktu Maghrib
menjelang dan Jibril berkata, ”Bangun
dan lakukan shalat.” Maka beliau SAW melakukan shalat Maghrib ketika
matahari terbenam.
Kemudian waktu Isya` menjelang dan Jibril
berkata, ”Bangun dan lakukan shalat.” Maka Rasulullah SAW pun
segera melakukan shalat Isya` ketika syafaq (mega senja merah) menghilang.
Waktu sholat Isya’ ini menjadi waktu sholat terpanjang karena Jibril baru
membangunkan kembali nabi Muhammad ketika fajar kedua telah mulai menjelang.
Kemudian waktu Shubuh menjelang dan
Jibril berkata, ”Bangunlah wahai Rasulullah dan lakukanlah shalat.”
Maka Rasulullah SAW melakukan shalat Shubuh ketika waktu fajar menjelang. (HR Ahmad, Nasai dan
Tirmidzy)
MASAIL
DINIYAH
Hukum Tawasul dengan Orang Sholeh
Terdapat perbedaan di kalangan
ulama tentang hukum bertawasul dengan seseorang yang dianggap sholeh dan
mempunyai martabat dan derajat tinggi di sisi Allah swt Para ulama berbeda
pendapat mengenai masalah ini.
Pendapat mayoritas ulama
mengatakan boleh, namun beberapa ulama mengatakan tidak boleh. Akan tetapi
kalau dikaji secara lebih detail dan mendalam, perbedaan tersebut hanyalah
sebatas perbedaan lahiriah bukan perbedaan yang mendasar karena pada dasarnya
tawasul kepada dzat (entitas seseorang), adalah tawasul pada amal perbuatannya,
sehingga masuk dalam kategori tawasul yang diperbolehkan oleh ulama’.
“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin
Khathab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas
bin Abdul Muthalib, lalu Umar berkata: "Ya Allah, kami telah bertawasul
dengan Nabi kami s.a.w. dan Engkau beri kami hujan, maka kini kami bertawasul
dengan Paman Nabi kami s.a.w., maka turunkanlah hujan..”. maka hujanpun turun.”
(H.R.
Bukhari)
Imam Syaukani mengatakan bahwa
tawasul kepada Nabi Muhammad s.a.w. ataupun kepada yang lain (orang shaleh,
misalnya), baik pada masa hidupnya maupun setelah meninggal adalah merupakan
ijma’ para sahabat.
|
Orang yang bertawasul dalam berdoa kepada
Allah swt menjadikan perantaraan berupa sesuatu yang dicintai-Nya dan dengan
berkeyakinan bahwa Allah swt juga mencintai perantaraan tersebut. Orang yang
bertawasul tidak boleh berkeyakinan bahwa perantaranya kepada Allah swt bisa
memberi manfaat dan madlarat kepadanya. Jika ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang
dijadikan perantaraan menuju Allah swt itu bisa memberi manfaat dan madlarat,
maka dia telah melakukan perbuatan syirik, karena yang bisa memberi manfaat dan
madlarat sesungguhnya hanyalah Allah swt semata.
Jadi tawasul adalah berdoa
kepada Allah swt melalui suatu perantara, baik perantara tersebut berupa amal
baik kita ataupun melalui orang shaleh yang kita anggap mempunyai posisi lebih
dekat kepada Allah swt. Tawasul hanyalah merupakan pintu dan perantara dalam
berdoa untuk menuju Allah swt Maka tawasul bukanlah termasuk syirik karena
orang yang bertawasul meyakini bahwa hanya Allah-lah yang akan mengabulkan
semua doa. Wallahu a’lam.
Komentar