Sosok Nabi Ada yang bisa ditiru dan Tidak
Para ulama ahli hadist telah sejak dulu memberikan pedoman, Rosulullah sebagai teladan bagi umat adalah tentang moralnya.
Ahlaq dan amal ibadahnya, bukan fisiknya. Sunnah yang melekat pada Nabi ada demensi syari’ah dan demensi basyariah (kemanusiaan)
Dalam haflah Maulidurrasul 1433H yang digelar Badan Pengelola Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), KH Habib Umar Muthohar asal Semarang menerangkan, Nabi Muhammad saw itu kalau berjalan dibawah matahari tidak ada bayangannya karena beliau sendiri adalah nur (cahaya), ini jelas tidak bisa ditiru siapapun karena keistimewaan yang dianugerahkan Allah swt secara khusus.
Soal fisik Nabi saw, lanjut Habib Umar jelas tidak bisa ditiru umatnya, kata beliau mengutip sebuah hadist, tubuh Nabi saw tidak pernah dihinggapi lalat karena Nabi tidak punya bagian tubuh yang tidak enak bahkan keringatnyapun baunya wangi.
“Istri baginda Rosul, Sayyidatina Aisyah Radhiallahua’anhu menyaksikan sendiri, ketika Rasulallah tertidur dan keningnya berketingat, Aisyah mengusap kening suaminya itu ternyata keringatnya wangi, bahkan sampai berhari-hari, ”
Seterusnya, Nabi Muhammad saw sebagi orang Arab yang hidup di jaman itu, tidaklah menjadi syari’at umatnya seluruh dunia harus berpenampilan seperti beliau. Semisal memakai jubah dan surban model arab, ditambah jenggot panjang dan terompah dari kulit unta. Ini tidaklah syari’at dan tidak untuk ditiru, sebab hak ini merupakan demensi basyariyah Nabi. Masuk ranah budaya.Bukan Agama.
“Sekarang umat Islam dibuat bingung oleh sekelompok orang aneh. Semua serba bersimbol Arab. Seolah kalau tidak arab tidak Islam. Inilah kalau belajar agama tidak secara benar. Yakni tidak belajar pada kyai atau Ulama” terangnya sambil bercanda.
Soal ibadah inipun,lanjutnya, sulit bisa meniru Rasulullah. Sebab Nabi saw kalau sholat sampai bengkak kakinya. Sedang umatnya, setelah bengkak baru mau sholat.
Cintai Maulid
Cara belajar agama yang benar, kata Habib Umar orang harus membaca kitab sejarah perikehidupan Rasulullah. Yaitu kitb maulid. Jumlahnya banyak, baik semua
Diantara yang populer adalah Al-Barzanji, Burdah, Ad-Diba’. Di perpustakaan Al-Azhar Mesir ada 150 Kitab Maulid. Mana yag bagus? Bagus semua. Mana yang tidak bagus?tidak ada.
“Yang jelek adalah yang tidak mau membaca atau membacakan kisah sejarah Nabi Muhammad SAW. Lebih buruk lagi, sudah tidak mau membaca masih pula menyalahkan orang yang membaca atau membacakan kisah kehidupan Nabi Muhammas saw” Kritiknya seraya heran mengapa ada orang yang menjelek-jelekan maulid Nabi.
Orang yang tidak mengerti sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw, maka tidak kenal dengan Nabi. Bagaimana bisa mencintai, sedang kenal saja tidak. Hal ini yang banyak melanda remaja sekarang.
“Remaja dan anak-anak muslim sudah banyak yang asing dan tidak penah mendengar cerita tentang Nabinya. Mereka malah dijauhkan dari maulid dengan tudingan bid’ah, agar tidak pernah mengerti sosok panutannya itu. Sehingga mereka menjadi generasi yang bingung. Lalu bermoral buruk, tidak takut dosa dan seterusnya,”ujarnya
Habib Umar menguraikan, masyarakat sekarang sedang dilanda kebingungan. Ada Bapak bingung anaknya diajari moral baik di rumah, malah anaknya memakai narkoba di luar rumah. Ada Anak bingung, lanjut beliau, disuruh sholat dan mengaji, bapaknya sendiri malah tidak sholat dan malas mengaji.
“Teruslah gelar Mauludan !. Ulama kita sudah mengajarkan untuk senantiasa mencintai kanjeng Nabi Muhammmad saw. Buktikan cintamu dengan senang menyebut nama Nabi dan rajin bersolawat untuknya,” pinta Habib sambil mengajak membaca sholawat.
Ikutilah Ulama
Lebih tegas Habib Umar mengajak kaum muslimin untuk mengikuti Ulama. Sebab Ulama adalah pewaris para Nabi. Jika ulama jadi panutan,maka negara akan aman.
“Ikutilah Ulama. Negara ini aman jika manut para ulama. Belanda diusir, PKI ditendang, umat diselamatkan. Jangan ikut kaum berjenggot. Rusak agama kita. Masjid dibom, anak muda disuruh bunuh diri dan kerusakanlainnya,”jelasnya
Beda ulama dengan orang jenggotan, kata Habib, kalu ulama sejak jaman walisongo, selalu berusaha mengIslamkan orang kafir. Sedangkan kaum berjenggot malah mengkafirkan umat Islam.
Ia pun mengajak umat Islam untuk menjauhkan diri dari ahlak madzmummah. Yaitu dengan tidak menjelek-jelekkan sesembahan orang lain atu mengejek amalan orang lain.Jika hal ini dilakukan, Kata beliau orang lain akan membalas menjelek-jelekkan umat Islam sendiri.Allah juga akan ikut dijelek-jelekkan.
“Prinsip agama itu, jangan mencubit orang jika tidak mau dicubit. Jangan menjele-jelekkan amalan atau sesembahan orang lain,karena itu akan membuat sesembahan kita dijelek-jelekkan,” Pesannya.
Menyitir sejarah wali, Habib Umar bercerita, Sayyid Ja’far Shodiq alias SUNAN KUDUS meminta umat Islam menghormati umat Hindu, termasuk melarang menyembelih sapi yang oleh orang Hindu dihormati. Hingga saat ini pun tradisi itu masih berlangsung.
Hasilnya, seluruh orang Hindu di Kudus masuk Islam. Sampai sekarang, akan sangat sulit mencari orang Hindu di Kudus. Itu hasil dari penghormatan, hasil dari ahlakul karimah dalam berdakwah.
“Jika Sunan Kudus suka menghujat, mungkinkah umat Hindu mau masuk Islam?” tanyanya dengan retoris.
Wallahu a’lam
Tulisan ini dikutip dari Tabloid Suara NU dan disampaikan oleh Habib Umar Muthohar dari Semarang. Semoga bermanfa’at.
Komentar