” Tasyakuran, Bancaan, ... ” Bolehkah ..?
Kita sering mendapatkan undangan saudara kita untuk
menghadiri acara dalam rangka meluapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas
nikmat yang telah diperolehnya. Acara tersebut muncul dengan nama yang
bermacam-macam. Ada yang menyebut tasyakuran, ada yang menamakan hajatan,
walimahan, kenduri, bancaan, tingkepan, krayahan, selapanan dan lain
sebagainya, yang semuanya itu diniatkan sebagai luapan rasa syukur atas
nikmat-Nya baik berupa kesehatan, keberhasilan usaha, bertambahnya rizky dan
keselamatan.
Bagaimanakah acara tasykuran, bancaan, tingkepan dan lain sebagainya bila
dilihat dari kacamata Islam? Adakah dalil-dalil yang mendasarinya?
Perintah bersyukur
Orang yang
mendapat nikmat dari Allah SWT, hendaknya bersyukur kepada Allah atas nikmat tersebut, apapun nikmat tersebut,
baik besar atau kecil. Dan setidaknya dengan mengucapkan : “Al-hamdlulillah".
Orang yang bersykur atas nikmat Allah, akan di
tambah oleh Allah dengan
yang lebih banyak, namun bagi yang kufur, maka kekufurannya akan menuai adzab
yang pedih. Firman-Nya.
"Dan
,ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan "Sungguh jika kamu bersyukur,
niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, pasti adzab-Ku sangat pedih". QS. Ibrahim : 7
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engakau
nyatakan (dengan bersyukur)”.
QS. Adh-Dhuha : 11
Ibnu Jarir mengatakan: Bercerita
padaku Ya'kub, bercerita kepadaku Abu Aliyah, bercerita kepadaku Said ibn Iyas
al-Jaririy dari Abu Nadlrah ra, berkata: Para ulama' berpendapat bahwa orang
yang syukur atas nikmat Allah adalah orang yang menyebut dan menceritakan nikmat kepada orang lain". (Tafsir Ibnu
Katsir Juz IV/676)
Abdullah
ibn Al-Imam Ahmad berkata: Bercerita kepada kami Manshur ibnu Ubaiy ibnu
Abu Mazahim. Bercerita kepada kami al-Jarrah ibnu Malih dari Abu Abdurrahman
dari asy-Sya'biy dari Ni’man ibnu Basyir is berkata: Nabi saw, berkata di atas
mimbar:
"Barangsiapa yang tidak bersyukur atas
nikmat yang, sedikit, maka pasti tidak pula bersyukur atas nikmat
yang banyak. Barangsiapa yang tidak mau berterimakasih
atas pertolongan manusia, maka berarti tidak bersyukur kepada Allah. Dan
bercerita atas nikmat Allah termasuk tanda
syukur atas nikmat Allah dan tidak mau menceritakan nikmat Allah berarti
kufur atas nikmat Allah. Berjamaah (bersatu) itu rahmat dan perpecahan itu
azab. Sanadnya
lemah (bukan maudlu’/palsu). (Tafsir Ibnu Katsir IV/676)
(Yang
dimaksud perpecahan adalah bukan berarti perbedaan, dan hadits dengan sanad
lemah bukan berarti hadits maudlu’ atau palsu. Hadits lemah boleh dipakai
sedangkan hadits palsu tidak boleh dipakai.)
Abu
Hurairah ra. berkata: Bahwa Nabi saw, bersabda:
“Tidak
di katakan bersyukur kepada Allah orang yang tidak mau berterimakasih kepada
manusia" HR. Abu Dawud. Dan di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Ahmad ibnu Muhammad dari Ibnu al-Mubarak dari Rabi'
ibnu Muslim dan ia berkata hadits shahih.
(Tafsir Ibnu Katsir IV/676)
Tasyakuran diisi dzikir
berjamaah
Tidak ada larangan baik dalam
al-Qur'an atau hadits, dan juga pendapat para ulama' salaf yang mengharamkan
orang yang meluapkan rasa syukurnya kepada Allah, kemudian berkumpul bersama keluarga dan tetangga, kemudian dzikir
bersama. Karena suatu perkumpulan bila diisi dzikir mendapat rahmat Allah. Nabi
saw bersabda tentang keutamaan orang yang berkumpul dan mengisinya
dengan berdzikir kepada Allah.
Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudriy ra, mereka
berkata: Nabi saw bersabda : ” Tidaklah berkumpul
suatu kaum dalam satu majlis mereka berdzikir
kepada Allah melainkan para malaikat meliputi mereka dan dilimpahkan kepada mereka rahmat dan Allah
menyebutkan mereka di sisi para malaikat
yang ada di sisi-Nya" HR. Muslim (Shahih Muslim no. 2700
dan Tirmidzi no. 3375 dan Riyadhus shalihin hal. 425-426)
Imam
Muslim dan
at-Tirmidzi meriwayatkan:
Suatu ketika Nabi saw
keluar melihat sekelompok sahabat yang sedang duduk bersama, lalu Rasulullah
bertanya: Apa yang membuat kalian duduk bersama di sini? Mereka menjawab: Kami
duduk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya (sebagai bentuk syukur). Kemudian
Rasulullah saw bersabda: “Sungguh aku didatangi oleh Jibril dan ia
memberitahukan kepadaku bahwa Allah membanggakan kalian di kalangan para
malaikat.”
(HR
Muslim dan at-Tirmidzi)
Besyukur
dengan bersedekah
Allah SWT berfirman:
“…Dan
apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya
itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan
karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu
nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu
sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” QS.
al-Baqoroh: 272
“Allah
memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang
yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” QS.
al-Baqoroh: 276
Dalam sebuah hadits dari Abdullah bin Amir ra bahwa
seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw: Islam yang bagaimanakah yang paling
baik? Beliau menjawab: “Engkau memberikan makanan dan engkau mengucapkan salam
kepada orang yang engkau kenal atau yang tidak engkau kenal.” HR. Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Nasai dan Ibnu Majah.
Pada akhirnya semua tergantung kepada niatnya sebagaimana
hadits Nabi saw :
“Sesungguhnya setiap amal itu disertai dengan niatnya.
Dan setiap orang itu tergantung kepada apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrohnya
karena Allah dan Rosul-Nya, maka hijrohnya untuk Allah dan Rosul-Nya. Dan
barangsiapa hijrohnya karena keuntungan duniawi yang dikejarnya atau karena
wanita yang akan dikawininya, maka hijrohnya untuk apa yang telah diniatkannya
itu.” HR. Bukhori dan Muslim
Dan setiap perbuatan yang baik merupakan wujud pengamalan
dari perintah Allah SWT :
“Dan
lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung.” QS. Al-Hajj :77
Wallahu a’lam.
Komentar